MANADOPOST.ID - Fenomena perselingkuhan sering dianggap sebagai tindakan yang tidak bermoral dan melukai hubungan. Namun, muncul istilah ‘penyakit selingkuh’ yang mengacu pada kecenderungan seseorang untuk terus menerus mengkhianati pasangan, bahkan dalam hubungan yang tampak harmonis. Pertanyaannya, apakah perilaku ini bisa diobati?
Menurut psikolog klinis, perselingkuhan bisa berakar pada berbagai faktor, seperti ketidakpuasan emosional, trauma masa lalu, hingga pola asuh di masa kecil.
Namun, tidak semua kasus perselingkuhan terjadi karena alasan yang sama. Beberapa individu memiliki kecenderungan tertentu yang membuat mereka sulit mempertahankan komitmen.
Penyebab Perselingkuhan
- Kurangnya Komitmen: Beberapa orang tidak benar-benar memahami atau menghargai konsep komitmen jangka panjang.
- Dinamika Psikologis: Trauma masa kecil atau kurangnya kasih sayang dari orang tua dapat membentuk perilaku impulsif atau mencari validasi dari orang lain.
- Ketergantungan Emosional: Ada juga yang merasa perlu memiliki banyak hubungan untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya.
Apakah Ada Solusi?
Menurut para ahli, ‘penyakit selingkuh’ bukanlah kondisi medis, melainkan pola perilaku yang bisa diubah dengan terapi atau konseling. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini:
- Kesadaran Diri: Mengidentifikasi penyebab perilaku selingkuh adalah langkah pertama untuk berubah.
- Terapi Pasangan: Konseling dapat membantu pasangan memahami akar masalah dan menciptakan solusi bersama.
- Terapi Individu: Seseorang yang terus-menerus selingkuh mungkin memerlukan terapi individu untuk mengatasi trauma atau pola pikir tertentu.
- Penguatan Komitmen: Membuat kesepakatan baru dalam hubungan dan berkomitmen untuk saling terbuka.
Tidak ada solusi instan untuk mengatasi perselingkuhan. Dibutuhkan kerja keras, komunikasi, dan dukungan dari kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak.
Perselingkuhan bisa jadi akibat dari luka emosional atau kebiasaan buruk yang terulang. Namun, dengan pendekatan yang tepat, perilaku ini dapat diubah. Hal terpenting adalah adanya kesadaran dan keinginan untuk berubah, baik dari individu maupun pasangan yang terdampak. (*)
Editor : Tanya Rompas