MANADOPOST.ID - Setiap perayaan Imlek, meja-meja keluarga Tionghoa selalu dipenuhi berbagai jenis makanan khas yang sarat makna, salah satunya adalah Kue Ku. Kue berwarna merah dengan isian kacang hijau atau kacang tanah ini bukan sekadar camilan, melainkan simbol keberuntungan yang dipercaya membawa rezeki bagi yang menikmatinya.
Makna Kue Ku dalam Tradisi Imlek
Kue Ku, atau sering disebut Ang Ku Kueh, memiliki arti "kue kura-kura merah". Bentuknya menyerupai tempurung kura-kura, yang dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan panjang umur dan ketahanan hidup. Warna merahnya juga bukan tanpa alasan—merah adalah warna keberuntungan dan penolak bala dalam budaya Tionghoa.
Biasanya, Kue Ku disajikan dalam perayaan-perayaan penting, termasuk Imlek dan ulang tahun, sebagai harapan untuk kesehatan, umur panjang, serta rezeki yang berlimpah.
Filosofi di Balik Kue Ku
Selain bentuk dan warna yang penuh makna, tekstur Kue Ku yang kenyal juga menggambarkan kelekatan dan hubungan erat dalam keluarga. Sementara itu, isian manisnya melambangkan kehidupan yang bahagia dan penuh keberkahan.
Dalam budaya Tionghoa, makanan sering kali dijadikan simbol doa dan harapan. Oleh karena itu, menyajikan Kue Ku saat Imlek menjadi cara untuk memohon keberuntungan bagi seluruh anggota keluarga di tahun yang baru.
Kenapa Kue Ku Selalu Ada di Meja Imlek?
- Melambangkan keberuntungan, panjang umur, dan kemakmuran.
- Warna merahnya dipercaya membawa keberuntungan dan menolak energi negatif.
- Teksturnya yang kenyal menggambarkan keharmonisan dan kelekatan keluarga.
- Sebagai bentuk doa agar tahun baru membawa kebahagiaan dan rezeki melimpah.
Jadi, saat Anda melihat Kue Ku di meja perayaan Imlek, ingatlah bahwa itu bukan sekadar camilan lezat, tetapi juga doa dan harapan untuk masa depan yang lebih baik!
Editor : Tanya Rompas