Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Rezim Khmer Merah, Tragedi Kelam dalam Sejarah Kamboja

Fandy Gerungan • Jumat, 7 Februari 2025 | 16:39 WIB
Ilustrasi Kamboja. (Google)
Ilustrasi Kamboja. (Google)

MANADOPOST.ID--Rezim Khmer Merah merupakan salah satu babak paling kelam dalam sejarah Kamboja. Di bawah kepemimpinan Pol Pot, rezim ini berkuasa dari tahun 1975 hingga 1979 dan bertanggung jawab atas genosida yang mengakibatkan kematian sekitar 1,7 hingga 2 juta orang.

Setelah Perang Vietnam dan ketidakstabilan politik di Kamboja, Khmer Merah berhasil merebut kekuasaan pada 17 April 1975. Pol Pot dan partainya, Partai Komunis Kampuchea, memiliki visi untuk mengubah Kamboja menjadi negara agraris komunis yang mandiri dengan menghapus semua bentuk kapitalisme dan pengaruh asing.

Rezim ini segera menerapkan kebijakan radikal, termasuk penghapusan uang, agama, sekolah, dan hak kepemilikan pribadi. Penduduk kota dipaksa pindah ke pedesaan untuk bekerja di ladang pertanian secara paksa.

Orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan dengan rezim sebelumnya, intelektual, dokter, guru, hingga biksu Buddha dibantai tanpa ampun.

Salah satu simbol kekejaman Khmer Merah adalah penjara S-21 (Tuol Sleng) yang digunakan untuk menyiksa dan mengeksekusi tahanan.

Ladang Pembantaian Choeung Ek menjadi tempat eksekusi massal, di mana ribuan korban dibunuh secara brutal dengan cara yang mengerikan, sering kali menggunakan alat-alat sederhana untuk menghemat peluru.

Selama masa pemerintahan Khmer Merah, sistem pendidikan dan layanan kesehatan runtuh total. Kelaparan meluas akibat kebijakan pertanian yang gagal, dan banyak orang meninggal karena penyakit serta kekurangan gizi. Populasi Kamboja mengalami penurunan drastis akibat pembantaian dan kondisi hidup yang mengerikan.

Pada tahun 1979, pasukan Vietnam menyerbu Kamboja dan menggulingkan rezim Khmer Merah. Pol Pot dan para pemimpin Khmer Merah melarikan diri ke perbatasan Thailand dan bersembunyi selama bertahun-tahun.

Meskipun rezimnya telah tumbang, keadilan bagi para korban baru benar-benar ditegakkan pada tahun 2000-an, ketika beberapa pemimpin Khmer Merah diadili atas kejahatan mereka.

Tragedi Khmer Merah meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Kamboja. Hingga kini, Kamboja masih dalam proses pemulihan dari dampak sosial, ekonomi, dan psikologis akibat genosida tersebut.

Museum Genosida Tuol Sleng dan Ladang Pembantaian Choeung Ek menjadi saksi bisu kebrutalan Khmer Merah dan mengingatkan dunia akan pentingnya keadilan dan hak asasi manusia. (*)

Editor : Clavel Lukas
#Kamboja #khmer merah