MANADOPOST.ID-Pol Pot, pemimpin kejam di balik rezim Khmer Merah, adalah sosok yang bertanggung jawab atas genosida di Kamboja yang menewaskan sekitar dua juta jiwa.
Setelah bertahun-tahun bersembunyi dan melarikan diri dari keadilan, Pol Pot akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang masih menyisakan misteri. Bagaimana kisah hidupnya berakhir?
Setelah Khmer Merah digulingkan oleh pasukan Vietnam pada tahun 1979, Pol Pot dan sisa-sisa pasukannya melarikan diri ke perbatasan Thailand-Kamboja.
Selama hampir dua dekade, ia hidup dalam persembunyian, berpindah-pindah tempat sambil tetap mempertahankan pengaruh di antara kelompok Khmer Merah yang tersisa.
Pada tahun 1997, terjadi perpecahan dalam tubuh Khmer Merah. Pol Pot yang mulai kehilangan pengaruhnya akhirnya ditangkap oleh para mantan pengikutnya sendiri dan dijatuhi hukuman rumah oleh kelompoknya di Anlong Veng. Ia dikucilkan dan diisolasi dari dunia luar.
Pada 15 April 1998, Pol Pot ditemukan meninggal dunia di dalam rumah persembunyiannya. Penyebab kematiannya masih menjadi perdebatan, dengan beberapa sumber menyebutkan serangan jantung.
Sementara yang lain menduga ia meninggal akibat bunuh diri dengan mengonsumsi racun. Pemerintah Kamboja tidak melakukan otopsi, sehingga spekulasi mengenai kematiannya terus berlanjut.
Meskipun telah meninggal, bayang-bayang kekejaman Pol Pot tetap membekas dalam sejarah Kamboja. Banyak korban selamat dari rezimnya yang masih mengalami trauma, dan pengadilan internasional terus berusaha mengadili para pemimpin Khmer Merah lainnya.
Akhir hidup Pol Pot yang tragis mencerminkan bagaimana seorang diktator yang pernah berkuasa dengan tangan besi akhirnya jatuh dalam isolasi dan ditinggalkan oleh pengikutnya sendiri.
Meski kematiannya tidak membawa keadilan langsung bagi para korban, ingatan akan kekejamannya tetap menjadi pelajaran bagi dunia agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. (*)
Editor : Clavel Lukas