Ubi ini sekilas mirip dengan ubi jalar, namun memiliki rasa dan tekstur berbeda. Banyak yang menyebut rasanya menyerupai campuran bengkoang, pir, dan tebu dengan sedikit hint jahe.
Ubi yakon, atau Smallanthus sonchifolius, berasal dari Amerika Selatan dan kini banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di Wonosobo, Bandung, dan Yogyakarta. Berbeda dengan ubi jalar, ubi yakon bisa dimakan mentah, memberikan sensasi renyah dan berair (juicy).
Sejumlah konten kreator kuliner di Indonesia turut mencoba ubi yakon, di antaranya Nana Koot, Sibungbung, Edwin, dan Diikadik.
Nana Koot membeli ubi yakon dari Wonosobo dan memakannya mentah. Ia menyebut teksturnya krenyes-krenyes seperti bengkoang, bukan seperti ubi yang memiliki banyak pati.
Diikadik menyebut rasanya mirip tebu, pir, dan bengkoang dengan sedikit aroma jahe. Videonya tentang ubi yakon bahkan sudah ditonton lebih dari 6 juta kali di TikTok.
Selain dimakan mentah, ubi yakon juga bisa direbus. Setelah direbus, teksturnya lebih mirip kentang dengan rasa manis yang tetap terasa.
Manfaat Ubi Yakon
Meski tergolong rendah kalori, ubi yakon mengandung serat tinggi dan fruktooligosakarida—sejenis fruktosa yang tidak dapat dicerna tubuh, sehingga baik untuk kesehatan. Beberapa manfaat ubi yakon, antara lain:
Mengelola diabetes, Mengontrol kadar kolesterol, Meningkatkan kesehatan pencernaan.
Di pasar tradisional Wonosobo, ubi yakon dijual dengan harga sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000 per kg. Sementara di e-commerce, harganya bisa mencapai Rp 70.000 – Rp 80.000 per kg.
Untuk mendapatkan ubi yakon yang berkualitas, pilih yang: Kulitnya bersih dan bebas bercak, Berat dan padat, Disimpan di tempat sejuk dan kering agar tidak cepat busuk.
Dengan semakin populernya ubi yakon, apakah Anda tertarik untuk mencobanya?(Del)
Editor : Tanya Rompas