MANADOPOST.ID - Selama ini, kita mengenal istilah FOMO (Fear of Missing Out) sebagai ketakutan ketinggalan momen seru yang dialami orang lain. Namun, realitas ekonomi yang semakin sulit melahirkan fenomena baru yang lebih mengkhawatirkan: FTMO (Forced to Miss Out).
Berbeda dengan FOMO yang hanya berupa rasa takut, FTMO adalah kondisi nyata di mana seseorang benar-benar tidak bisa ikut serta dalam berbagai aktivitas sosial atau kehidupan karena keterbatasan finansial.
Survei terbaru dari platform perbankan Chime mengungkapkan bahwa lebih dari 50% generasi Milenial dan Gen Z di Amerika telah terpaksa melewatkan acara penting—baik yang diinginkan maupun yang dibutuhkan—karena harus menunggu gaji berikutnya.
Dengan biaya hidup yang terus meningkat, semakin banyak orang yang harus memilih antara membayar kebutuhan dasar atau ikut serta dalam perayaan, perjalanan, bahkan sekadar makan malam bersama teman.
Lantas, bagaimana FTMO memengaruhi kehidupan kita? Dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi fenomena ini, terutama menjelang musim liburan? Simak pembahasannya di bawah ini.
Apa Itu FTMO?
FTMO adalah kondisi di mana seseorang terpaksa melewatkan pengalaman atau acara karena alasan finansial. Jika FOMO hanya membuat kita iri melihat orang lain bersenang-senang di media sosial, FTMO benar-benar membatasi akses kita terhadap kehidupan sosial.
Fenomena ini diperparah oleh berbagai faktor, seperti:
- Gaji yang tidak sebanding dengan biaya hidup
- Siklus pembayaran yang masih menggunakan sistem dua mingguan, sehingga membuat banyak orang kesulitan mengelola keuangan
- Kenaikan harga kebutuhan pokok, sewa tempat tinggal, dan utang pendidikan yang membebani keuangan generasi muda
Kondisi ini memaksa banyak orang untuk mengatakan "tidak" pada acara penting, seperti konser, pernikahan sahabat, perjalanan liburan, hingga tradisi tukar kado di akhir tahun.
Dampak FTMO Terhadap Kehidupan Sosial dan Mental
Hidup dari gaji ke gaji bukan sekadar masalah finansial—dampaknya jauh lebih luas, termasuk pada kesehatan mental dan hubungan sosial.
-
Meningkatkan Stres dan Kecemasan
Ketidakmampuan untuk ikut serta dalam aktivitas sosial dapat membuat seseorang merasa terisolasi. Perasaan tertinggal dari lingkungan sekitar bisa memicu kecemasan dan stres berkepanjangan. -
Merusak Hubungan Sosial
Ketika seseorang terus-menerus menolak undangan atau tidak bisa ikut serta dalam momen spesial, hubungan dengan keluarga dan teman bisa menjadi renggang. -
Menimbulkan Perasaan Tidak Berdaya
Banyak orang merasa frustrasi karena meskipun sudah berhemat dan mengatur keuangan sebaik mungkin, mereka tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, apalagi menikmati hal-hal yang mereka inginkan.
Fenomena FTMO (Forced to Miss Out) menjadi realitas baru yang semakin mengkhawatirkan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Berbeda dengan FOMO yang hanya sebatas rasa takut ketinggalan momen, FTMO adalah kenyataan pahit di mana banyak orang benar-benar terpaksa melewatkan pengalaman berharga karena keterbatasan finansial.
Dampak FTMO tidak hanya berpengaruh pada aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan hubungan sosial. Tekanan hidup dari gaji ke gaji dapat meningkatkan stres, membuat seseorang merasa terisolasi, dan bahkan merusak hubungan dengan keluarga serta teman. Ketidakmampuan untuk ikut serta dalam momen spesial menimbulkan perasaan tidak berdaya yang semakin memperparah kondisi psikologis mereka yang mengalaminya.
Memahami fenomena ini menjadi langkah awal untuk mencari solusi, baik dalam bentuk kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan finansial pekerja maupun strategi individu dalam mengelola keuangan. Dengan begitu, harapannya FTMO tidak lagi menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh generasi muda di masa depan. (*)
Editor : Tanya Rompas