MANADOPOST.ID - Tidak banyak yang tahu bahwa seorang ulama besar dari Banten pernah menjadi mimpi buruk bagi Belanda—bahkan hingga harus dibuang jauh ke Afrika Selatan. Ia adalah Syekh Yusuf al-Maqassari, seorang ulama sufi, pejuang, dan cendekiawan Islam kelahiran Makassar, namun memiliki hubungan erat dengan Banten setelah menikahi putri Sultan Ageng Tirtayasa.
Setelah melanglang buana menuntut ilmu hingga ke Mekkah dan Yaman, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara dan bergabung dengan perlawanan Sultan Ageng melawan VOC. Karena peranannya dianggap terlalu berpengaruh di kalangan umat, ia menjadi target utama VOC.
Setelah penangkapan Sultan Ageng, Syekh Yusuf terus melakukan perlawanan di daerah Sulawesi hingga akhirnya ditangkap pada 1684. Namun, Belanda tak berani menahannya di Batavia karena khawatir pengaruhnya tetap menyebar. Maka, ia diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), lalu akhirnya ke Cape Town, Afrika Selatan, tempat ia wafat pada 1699.
Meski diasingkan, ajarannya tetap hidup. Bahkan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf dikenal sebagai pahlawan nasional dan simbol Islam melawan penjajahan. Hubungannya dengan Banten menegaskan bahwa semangat melawan kolonialisme tak punya batas wilayah—dari tanah jawara hingga ujung Afrika. (*)
Editor : Tanya Rompas