MANADOPOST.ID – OpenAI menggandeng Broadcom untuk merancang dan memproduksi chip akselerator AI khusus guna memperkuat infrastuktur komputasi mereka sendiri.
Menurut pengumuman resmi OpenAI, kemitraan ini bertujuan mengembangkan total 10 gigawatt akselerator AI dalam beberapa tahun ke depan.
Chip-chip ini akan dirancang oleh OpenAI sedangkan Broadcom akan menangani produksi dan integrasi sistem jaringan.
Peluncuran sistem akselerator-nya dijadwalkan mulai paruh kedua 2026 dan akan selesai pada tahun 2029.
Dengan membuat chip sendiri, OpenAI ingin mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal seperti Nvidia dan AMD.
OpenAI menyebut bahwa chip ini akan memungkinkan mereka menanamkan pengetahuan model AI langsung ke perangkat keras supaya performa lebih optimal.
Dalam kemitraan ini, Broadcom juga menyediakan solusi jaringan seperti Ethernet dan konektivitas optik untuk sistem AI cluster.
Baca Juga: Indonesia Bangun Pusat Kolaborasi AI dengan Tsinghua University
OpenAI beralasan bahwa dengan membangun chip sendiri, mereka bisa “mengontrol nasib” dari sisi perangkat keras.
Perusahaan juga berharap chip khusus ini membantu menghemat biaya operasional dan mempercepat inovasi AI mereka.
Proyek ini bukan sekadar chip saja, tetapi juga pembangunan rak sistem dan integrasi jaringan agar bisa skala besar.
OpenAI menyebut bahwa akselerator ini akan digunakan di fasilitas mereka sendiri dan juga di pusat data milik mitra.
Dalam pengumuman, co-founder OpenAI Greg Brockman menyebut bahwa AI mereka bisa membantu mendesain chip lebih cepat daripada manusia, mengedepankan optimasi ruang dan efisiensi.
Menurut laporan Reuters, kolaborasi ini akan menghadirkan prosesor internal pertama OpenAI mulai 2026.
Kolaborasi semacam ini juga menunjukkan tren industri di mana perusahaan AI besar ingin memiliki perangkat keras sendiri agar lebih mandiri.
Meski ambisius, proyek ini menghadapi tantangan besar seperti validasi desain chip, manufaktur massal, dan kontrol kualitas.
OpenAI dan Broadcom belum mengungkap nilai investasi dan anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini.
Beberapa analis memandang langkah ini sebagai usaha OpenAI mengikuti jejak perusahaan teknologi lain yang membuat chip sendiri.
Namun, kritikus juga memperingatkan risiko besar jika produksi massal gagal atau biaya membengkak.
Pasar chip AI sangat kompetitif dan perusahaan seperti Nvidia sudah memiliki ekosistem mapan.
Tantangan lainnya adalah menjaga agar chip baru tetap hemat energi dan kompatibel dengan model AI yang terus berkembang.
Jika berhasil, OpenAI akan memiliki keunggulan besar dalam integrasi vertikal antara perangkat lunak dan perangkat keras.
Kolaborasi ini bisa menjadi titik balik dalam infrastruktur AI global selama beberapa tahun ke depan. (aak)
Editor : Richard Lawongan