Jagosatu.com
Nilai mata uang Ringgit Malaysia yang menguat membuat banyak warga Malaysia berbondong-bondong datang liburan ke Indonesia.
Menurut Liputan6.com, penguatan ringgit membuat biaya wisata ke Indonesia terasa jauh lebih murah bagi warga Malaysia.
Fenomena ini menyebabkan peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke berbagai destinasi seperti Bali, Batam, dan Medan.
Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, kunjungan wisatawan Malaysia menjadi yang tertinggi dibanding negara lain pada semester pertama tahun ini.
Para turis Malaysia memanfaatkan selisih kurs untuk menghemat pengeluaran hotel, makanan, dan belanja.
Penguatan ringgit menciptakan istilah baru di kalangan wisatawan yaitu "wisata hemat kurs", yang artinya liburan terasa mewah dengan harga terjangkau.
Menurut laporan resmi pemerintah Malaysia, ringgit menguat terhadap rupiah dan baht Thailand sehingga warga Malaysia memilih berlibur ke negara tetangga.
Tren ini membuat sektor pariwisata Indonesia mengalami peningkatan pendapatan yang cukup signifikan dalam waktu singkat.
Pihak hotel dan restoran di Bali mengaku jumlah tamu Malaysia meningkat drastis dalam dua bulan terakhir.
Banyak turis Malaysia juga datang untuk medical tourism atau wisata kesehatan karena biaya pengobatan di Indonesia lebih murah dibanding negaranya.
Dilansir dari CNN Indonesia, wisatawan Malaysia juga gemar berbelanja produk lokal seperti kopi, pakaian tradisional, dan kosmetik herbal.
Bandara Ngurah Rai, Batam, dan Kualanamu menjadi tiga pintu masuk utama yang paling ramai didatangi wisatawan dari Malaysia.
Menurut Asosiasi Travel Indonesia, paket wisata “3 hari 2 malam” dengan harga murah menjadi produk paling laris di pasar Malaysia.
Penguatan ringgit menjadi faktor pendorong utama karena setiap RM100 kini bisa mendapatkan lebih banyak rupiah dibanding tahun lalu.
Turis Malaysia merasa lebih leluasa dalam berbelanja karena uang mereka memiliki daya beli lebih tinggi.
Sektor UMKM lokal juga merasakan dampaknya karena produk mereka lebih banyak dibeli wisatawan asing.
Menurut pelaku pariwisata, momen ini harus dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan promosi wisata secara besar-besaran.
Jika tren ini terus meningkat, Indonesia berpotensi menjadi tujuan utama wisatawan Asia Tenggara dalam dua tahun ke depan.
Namun, pengamat pariwisata juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas pelayanan agar wisatawan merasa nyaman dan ingin datang kembali.
Kedatangan turis Malaysia bukan hanya membawa devisa tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa kekuatan mata uang memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan wisata global. (m)
Editor : ALengkong