MANADOPOST.ID – YouTube terus memperkuat sistem keamanannya di tengah meningkatnya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di dunia digital.
Platform berbagi video tersebut baru saja memperkenalkan fitur terbaru bernama similarity detection atau deteksi kemiripan.
Fitur ini dirancang untuk membantu kreator, penonton, dan pihak YouTube sendiri dalam mengenali konten yang meniru atau menyalin video lain secara tidak etis.
Dilansir dari ANTARA, fitur deteksi kemiripan ini dikembangkan untuk mencegah penyebaran video palsu atau hasil manipulasi AI yang sering kali menyerupai karya asli.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar YouTube untuk melindungi hak cipta dan menjaga keaslian konten di platformnya.
Menurut laporan The Verge, fitur ini bekerja dengan cara menganalisis pola visual, suara, dan metadata video untuk menemukan kemiripan dengan konten lain.
Baca Juga: Startup AI Kuasai 50 Persen Pendanaan Global Tahun 2025
Teknologi tersebut menggunakan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) yang mampu mempelajari ribuan data untuk mendeteksi kemiripan tingkat tinggi.
YouTube menyebut sistem ini bisa mendeteksi manipulasi AI seperti deepfake, yaitu video yang menampilkan wajah atau suara seseorang yang dihasilkan oleh teknologi AI.
Deepfake sendiri sering digunakan untuk meniru selebriti, politisi, atau tokoh publik tanpa izin, dan bisa menimbulkan dampak negatif di masyarakat.
Dengan fitur deteksi kemiripan ini, YouTube berharap dapat mencegah video berpotensi menyesatkan sebelum tersebar luas.
Selain itu, pengguna yang merasa karyanya ditiru atau disalahgunakan kini dapat mengajukan laporan dengan lebih mudah melalui sistem baru tersebut.
Pihak YouTube akan meninjau laporan dan melakukan tindakan yang sesuai, termasuk penghapusan video yang melanggar aturan.
YouTube juga memberikan edukasi kepada kreator tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam membuat konten.
Menurut perusahaan, AI seharusnya digunakan untuk membantu proses kreatif, bukan untuk meniru atau merusak reputasi orang lain.
YouTube menyatakan bahwa fitur ini akan diluncurkan secara bertahap di seluruh dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Uji coba awal dilakukan di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada sebelum diterapkan secara global.
Langkah ini sejalan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap dampak negatif AI dalam industri hiburan dan media sosial.
Banyak pengguna yang khawatir dengan penyebaran konten palsu yang terlihat sangat meyakinkan, terutama menjelang pemilu di berbagai negara.
Dengan hadirnya sistem deteksi kemiripan, YouTube ingin membangun lingkungan digital yang lebih aman, jujur, dan dapat dipercaya.
Fitur ini juga menjadi bagian dari komitmen Google, induk perusahaan YouTube, dalam menciptakan ekosistem AI yang etis dan transparan.
YouTube berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bagi platform digital lainnya dalam menghadapi tantangan era kecerdasan buatan. (aak)
Editor : Richard Lawongan