MANADOPOST.ID – Google dikabarkan tengah berinvestasi dalam proyek energi baru berupa pembangkit listrik tenaga gas di Illinois, Amerika Serikat.
Langkah ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan daya bagi pusat data mereka yang semakin besar seiring peningkatan layanan berbasis kecerdasan buatan.
Proyek tersebut bernama Broadwing Energy Center dan dirancang untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas hingga 400 megawatt.
Pembangkit ini akan menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), yaitu sistem yang mampu menangkap karbondioksida dari emisi gas buang sebelum dilepaskan ke atmosfer.
Dilansir dari The Verge, teknologi CCS bekerja dengan menyimpan gas karbon dioksida di bawah tanah agar tidak menumpuk di udara.
Tujuannya adalah mengurangi efek rumah kaca yang menjadi penyebab utama perubahan iklim global.
Baca Juga: Instagram Perbarui Fitur “Map” dengan Privasi Lebih Aman dan Ekspansi ke India
Teknologi ini diharapkan dapat menekan pemanasan global yang dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut dan kerusakan ekosistem laut seperti terumbu karang.
Namun, beberapa pihak masih meragukan efektivitas teknologi ini karena biayanya yang tinggi dan proses implementasinya yang rumit.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa CCS justru bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, bukan mempercepat peralihan ke energi terbarukan seperti angin dan surya.
Dalam pernyataannya, Google menyebut bahwa mereka ingin “mendorong lahirnya inovasi dan solusi energi bersih baru melalui dukungan terhadap proyek ini.”
Google berkomitmen untuk membeli sebagian besar energi yang dihasilkan oleh Broadwing setelah beroperasi penuh pada tahun 2030.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Google mencapai target operasi nol emisi karbon di seluruh fasilitasnya.
Menurut Departemen Energi Amerika Serikat (DOE), proyek CCS memiliki sejarah panjang dengan berbagai tantangan dan kegagalan.
Dari enam proyek serupa yang pernah didanai pemerintah AS, hanya satu yang benar-benar berhasil beroperasi penuh.
Laporan Government Accountability Office (GAO) mencatat, banyak proyek CCS gagal karena masalah biaya dan ketergantungan pada harga minyak dunia.
Rata-rata biaya listrik dari pembangkit dengan sistem CCS bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan listrik dari energi terbarukan.
Meski begitu, Google menegaskan bahwa sistem di Broadwing akan berbeda karena gas karbondioksida akan disimpan permanen di bawah tanah, bukan dijual untuk industri minyak.
Proyek ini diklaim mampu menangkap hingga 90 persen emisi karbon yang dihasilkan pembangkit listrik tersebut.
Namun, pembakaran gas alam tetap berisiko menimbulkan emisi metana, yang memiliki dampak pemanasan lebih besar dari karbondioksida.
Kebocoran metana dari pipa atau sumur gas juga menjadi perhatian karena dapat memperburuk efek rumah kaca.
Terlepas dari berbagai tantangan, langkah Google menunjukkan keseriusan raksasa teknologi itu dalam mencari solusi inovatif untuk menghadirkan energi lebih bersih di era digital. (aak)
Editor : Richard Lawongan