MANADOPOST.id – Patrick Gelsinger, yang sebelumnya memimpin Intel, kini menempuh bab baru dengan misi yang unik di dunia teknologi.
Gelsinger telah bergabung sebagai Executive Chairman dan Head of Technology di Gloo, sebuah perusahaan teknologi yang fokus pada ekosistem iman dan gereja.
Dia menyebut bahwa AI (artificial intelligence) bukan hanya soal efisiensi tetapi bisa diarahkan ke nilai-nilai Kristen untuk “mempercepat kedatangan Kristus”.
Gloo sendiri mendukung lebih dari 140.000 pemimpin iman, lembaga nonprofit dan gereja dengan platform teknologi dan AI yang disesuaikan.
Perusahaan ini meluncurkan produk seperti “Gloo AI Chat” yang disebut sebagai chat-AI berlandaskan prinsip Kristen dan dirilis dalam versi beta.
Menurut situs Gloo, platform ini dibuat agar setiap organisasi gereja, denominasi, atau lembaga iman bisa membangun layanan AI sendiri dengan nilai yang mereka pegang.
Baca Juga: Disrupt-X, Intel, dan Rekeep Satukan Kekuatan Bangun Infrastruktur AI Hijau Global
Gelsinger menyebut bahwa gelombang AI ini adalah momen yang setara dengan “momen Gutenberg” untuk buku-cetak, namun kini untuk teknologi yang lebih besar.
Dia menjelaskan bahwa teknologi itu netral, namun penggunaannya menentukan arah moralnya, dan komunitas iman harus muncul untuk memengaruhi rancangan AI.
Gloo dan Gelsinger pun menyelenggarakan hackathon dan acara komunitas lainnya untuk mengundang pengembang, gereja, dan kreator bergabung di ekosistem AI-nilai.
Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah bagaimana menjaga “alignment” nilai antara berbagai denominasi Kristen dan tradisi gereja yang berbeda.
Gelsinger menegaskan bahwa mereka bukan hanya membangun AI untuk satu aliran gereja, tetapi untuk banyak denominasi dan jaringan iman yang berbeda.
Langkah ini menarik perhatian di Silicon Valley yang selama ini identik dengan teknologi sekuler, sebab kini muncul wajah teknologi yang lebih “beriman”.
Pengamat menyebut bahwa pendekatan Gelsinger-Gloo bisa membuka dialog baru tentang etika, teknologi dan peran institusi iman di era digital.
Kemitraan ini juga menunjukkan bahwa sektor teknologi tidak hanya tertutup pada komersial semata, tetapi bisa merambah nilai dan misi sosial-keagamaan.
Meski proyek ini masih dalam tahap awal, investor sudah menaruh perhatian terhadap niat baik “values-aligned AI” yang diusung Gloo.
Namun, ada juga kritik yang menyebut bahwa memasukkan nilai agama ke AI bisa memperumit objektivitas teknologi dan akses lintas kepercayaan.
Gloo menanggapi dengan mengatakan bahwa teknologi mereka terbuka bagi berbagai organisasi iman dan tidak bersifat eksklusif terhadap satu keyakinan saja.
Bagi masyarakat umum, langkah ini menjadi tanda bahwa teknologi masa depan tidak hanya soal gadget dan aplikasi, tapi juga soal makna dan nilai.
Bagi dunia startup Indonesia atau Asia Tenggara, model “faith-tech” seperti ini bisa menjadi inspirasi untuk aplikasi nilai-landas atau komunitas berbasis keyakinan.
Namun, tetap penting bagi pengguna untuk kritis: bagaimana data dikumpulkan, bagaimana AI merespon, dan siapa yang mengatur algoritma nilai tersebut.
Dengan begitu, perubahan besar di teknologi bisa terjadi bukan hanya dari segi kecepatan atau performa, tetapi dari segi dampak sosial dan spiritual.
(J)
Editor : ALengkong