MANADOPOST.ID – Google kembali membuat gebrakan besar dalam dunia teknologi dengan rencana membangun pusat data atau data center di luar angkasa.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Google untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kebutuhan energi tinggi dari pusat data di Bumi.
Menurut laporan dari Business Insider, proyek ini masih dalam tahap riset awal dan akan melibatkan berbagai lembaga luar angkasa internasional.
Pusat data adalah tempat penyimpanan jutaan informasi digital, termasuk video, gambar, dan dokumen yang digunakan setiap hari oleh pengguna internet di seluruh dunia.
Karena jumlah data yang terus meningkat, pusat data di Bumi membutuhkan energi yang sangat besar untuk tetap beroperasi.
Masalahnya, semakin besar energi yang digunakan, semakin besar pula emisi karbon yang dihasilkan, sehingga berdampak pada pemanasan global.
Baca Juga: Samsung Siap Bawa Galaxy XR ke Lebih Banyak Negara pada 2026
Dengan memindahkan sebagian beban komputasi ke luar angkasa, Google berharap bisa menekan penggunaan energi bumi dan menciptakan sistem yang lebih ramah lingkungan.
Konsep ini dikenal dengan istilah Space-Based Data Center atau pusat data berbasis luar angkasa.
Menurut laporan Reuters, Google bekerja sama dengan beberapa mitra teknologi untuk meneliti bagaimana pusat data bisa dioperasikan di orbit Bumi.
Pusat data di luar angkasa akan memanfaatkan tenaga surya langsung dari matahari tanpa gangguan atmosfer.
Hal ini membuatnya jauh lebih efisien karena energi yang dihasilkan bisa digunakan sepenuhnya untuk sistem pendingin dan komputasi.
Selain efisiensi energi, keuntungan lain dari pusat data luar angkasa adalah keamanan data yang lebih tinggi karena sulit diakses dari Bumi.
Google disebut sedang meneliti bagaimana cara mentransfer data dari Bumi ke orbit dengan kecepatan tinggi menggunakan gelombang laser.
Teknologi ini dikenal dengan sebutan optical communication, yang dapat mengirimkan data lebih cepat dan stabil dibanding sinyal radio biasa.
Namun, proyek ini juga menghadapi tantangan besar, seperti suhu ekstrem di luar angkasa dan biaya peluncuran satelit yang masih tinggi.
Menurut The Verge, Google perlu mengembangkan sistem pendinginan khusus agar perangkat keras tidak rusak akibat panas dan radiasi kosmik.
Selain itu, mereka juga harus memastikan sistem tersebut bisa beroperasi otomatis tanpa banyak perawatan langsung dari manusia.
Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi revolusi besar dalam cara manusia menyimpan dan memproses data di masa depan.
Google ingin menjadikan langkah ini sebagai bagian dari komitmen mereka menuju net zero emission atau nol emisi karbon pada tahun 2030.
Rencana ini juga menunjukkan bahwa masa depan teknologi tidak hanya ada di bumi, tetapi juga meluas hingga ke luar angkasa.
Dengan ide ambisius ini, Google berharap dapat menginspirasi perusahaan teknologi lain untuk ikut menciptakan inovasi berkelanjutan yang ramah lingkungan. (aak)
Editor : Richard Lawongan