MANADOPOST.ID- Dunia kecerdasan buatan kembali diguncang oleh laporan terbaru yang menyebutkan bahwa banyak perusahaan AI gagal melindungi privasi dan data pengguna secara memadai.
Menurut laporan dari ComputerWorld, sejumlah platform AI populer diketahui masih menyimpan data sensitif pengguna tanpa enkripsi yang memadai.
Hal ini memicu kekhawatiran global terkait potensi kebocoran informasi pribadi dan penyalahgunaan data.
Penelitian yang dilakukan pada lebih dari 200 perusahaan AI di berbagai negara menemukan bahwa hanya 38% di antaranya memiliki sistem keamanan data yang layak.
Sisanya masih menggunakan mekanisme lama yang rentan terhadap serangan siber.
Masalah terbesar muncul dari sistem penyimpanan awan (cloud) yang belum diatur dengan benar secara regional.
Analis keamanan menyebut kondisi ini sebagai “bom waktu digital” yang bisa meledak kapan saja.
Baca Juga: Google dan Microsoft Aktifkan Kembali Pembangkit Nuklir Demi Tenaga AI, Dunia Mulai Cemas
Selain itu, banyak perusahaan AI gagal menerapkan prinsip transparansi algoritmik, sehingga pengguna tidak tahu bagaimana datanya diproses.
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya jumlah serangan siber terhadap server berbasis AI sejak awal 2025.
Bahkan, beberapa platform generatif dilaporkan mengalami kebocoran data input pengguna tanpa disadari.
Fenomena ini membuat banyak negara mulai menyusun regulasi ketat untuk pengawasan sistem AI.
Uni Eropa dan Jepang telah lebih dulu memperkenalkan aturan yang mewajibkan audit keamanan berkala untuk perusahaan AI.
Namun, di banyak negara berkembang, regulasi semacam ini masih belum berjalan efektif.
Pakar teknologi memperingatkan bahwa kecepatan inovasi AI tidak boleh mengorbankan keamanan dan privasi masyarakat.
Data kini menjadi komoditas paling berharga di era digital, dan AI harus dikelola secara bertanggung jawab.
Jika situasi ini tidak segera dibenahi, maka potensi pelanggaran privasi bisa meningkat tajam di masa depan.
Perusahaan teknologi global kini didesak untuk memperkuat sistem enkripsi dan audit keamanan data internal.
Laporan ini menjadi pengingat keras bahwa kemajuan AI tidak selalu berarti aman bagi penggunanya.
Keamanan digital kini menjadi prioritas utama agar kepercayaan publik terhadap AI tetap terjaga.
Dan dunia sedang menunggu siapa yang akan berani menjadi pelopor keamanan AI sejati. (AR)
Editor : Prisilia Rumengan