Jagosatu.com
Puasa intermiten sering dianggap membuat orang jadi lemas dan susah berpikir.
Ternyata, sebuah studi besar menunjukkan bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Menurut Liputan6, para peneliti meninjau lebih dari 70 studi untuk melihat dampak puasa pada otak.
Hasilnya, puasa intermiten tidak mengganggu kemampuan berpikir orang dewasa saat dilakukan dalam durasi normal.
Mereka menemukan bahwa fungsi seperti memori, fokus, dan konsentrasi tetap berjalan baik.
Penelitian ini melibatkan sekitar 3.500 orang dengan berbagai jenis tes kognitif.
Puasa intermiten sendiri adalah pola makan dengan membatasi waktu makan, misalnya metode 16:8.
Dalam metode 16:8, seseorang berpuasa 16 jam dan makan hanya dalam waktu 8 jam.
Peneliti menjelaskan bahwa tubuh bisa tetap bekerja normal selama memiliki cadangan energi yang cukup.
Menurut studi tersebut, pikiran tidak menjadi lemot karena otak masih mendapat pasokan energi dari cadangan glukosa dan lemak.
Ada juga istilah “metabolic switch” yaitu proses ketika tubuh beralih memakai lemak sebagai energi saat glukosa habis.
Metabolic switch justru dapat membantu sel-sel tubuh bekerja lebih efisien menurut Healthline.
Namun, penelitian juga mencatat bahwa puasa lebih dari 12 jam bisa menurunkan performa kognitif sedikit.
Meski begitu, penurunannya tidak drastis sampai membuat orang benar-benar tidak bisa berpikir.
Beberapa peserta penelitian merasa sedikit sensitif atau mudah lapar saat puasa terlalu lama.
Rasa lapar itu kadang membuat seseorang sulit fokus, namun sifatnya hanya sementara.
Peneliti tetap mengingatkan bahwa puasa intermiten tidak cocok untuk semua orang.
Orang dengan kondisi khusus seperti diabetes atau masalah makan tidak disarankan melakukannya tanpa pengawasan.
Tapi bagi banyak orang sehat, puasa intermiten bisa dijalani tanpa membuat otak melemah.
Kesimpulannya, puasa intermiten terbukti tidak membuat lemot selama dilakukan dengan bijak.(m)
Editor : ALengkong