MANADOPOST.ID – Industri pusat data global menghadapi tantangan besar karena meningkatnya panas dari beban komputasi kecerdasan buatan.
Lonjakan kebutuhan daya AI membuat sistem pendinginan data center di banyak negara kewalahan.
Menurut laporan Reuters, panas kini menjadi salah satu masalah utama dalam pembangunan infrastruktur AI modern.
Data center generasi baru harus menangani ribuan GPU yang menghasilkan panas ekstrem dalam waktu bersamaan.
GPU yang menggerakkan model AI besar membutuhkan daya jauh lebih tinggi dibanding server biasa.
Lonjakan ini membuat teknologi pendinginan tradisional menjadi kurang efektif.
Penyedia data center mulai beralih ke pendinginan cair dan sistem imersi untuk menjaga suhu tetap stabil.
Beberapa perusahaan bahkan membangun fasilitas di lokasi bersuhu rendah untuk mengurangi biaya pendinginan.
Baca Juga: Momentum Global Permintaan Semikonduktor Tumbuh, Chip Smartphone & Data Center AI Meledak
Peningkatan panas membuat konsumsi energi data center turut melonjak tajam.
Menurut para ahli, data center AI dapat mengonsumsi dua kali lipat energi pusat data konvensional.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
Beberapa negara Eropa mulai membatasi pembangunan data center karena tekanan terhadap jaringan listrik lokal.
Operator data center terpaksa merancang ulang arsitektur server agar lebih hemat energi.
Pendinginan menjadi komponen paling mahal dalam operasional pusat data modern.
Beberapa perusahaan mencoba memanfaatkan panas buangan untuk kebutuhan pemanas kota.
Namun solusi ini masih dalam tahap awal dan belum dapat diterapkan secara luas.
Pemerintah dan industri dipaksa mencari cara menyeimbangkan kebutuhan AI dan energi nasional.
Industri memperkirakan kebutuhan pendinginan akan terus meningkat seiring berkembangnya model AI generasi berikutnya.
Tantangan panas ini menjadi isu besar yang menentukan arah masa depan infrastruktur komputasi global.
(rm)
Editor : Jasinta Bolang