Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Gabi, Robot Biksu Pertama di Dunia yang Mengubah Cara Agama dan Teknologi Bertemu

ALengkong • Senin, 18 Mei 2026 | 15:17 WIB
Gabi, Robot Biksu Pertama di Dunia
Gabi, Robot Biksu Pertama di Dunia
mpmeta

 

Manadopost.id - Perkembangan kecerdasan buatan dan robot humanoid kini tidak lagi hanya masuk ke dunia industri, kesehatan, atau pendidikan. Teknologi mulai masuk ke ranah yang selama ini dianggap sangat manusiawi, yaitu spiritualitas dan agama. Salah satu contoh paling menarik datang dari Korea Selatan, ketika sebuah robot humanoid bernama Gabi resmi mengikuti ritual Buddhis dan diakui sebagai “robot biksu” pertama di dunia. Peristiwa ini langsung menarik perhatian media internasional karena memperlihatkan bagaimana tradisi kuno dan teknologi modern mulai berjalan berdampingan.

Gabi Menjadi Robot Biksu Pertama di Dunia

Robot humanoid bernama Gabi mengikuti upacara Buddhis di Kuil Jogyesa, Seoul, Korea Selatan. Dalam upacara tersebut, Gabi mengenakan jubah biksu, menyatukan kedua tangan seperti sedang berdoa, membungkuk kepada para biksu, dan mengucapkan sumpah Buddhis yang telah dimodifikasi khusus untuk robot. Momen ini dianggap bersejarah karena untuk pertama kalinya sebuah android ikut serta dalam ritual keagamaan resmi sebagai bagian dari komunitas Buddhis.

Upacara Buddhis yang Dimodifikasi untuk Robot

Dalam tradisi Buddhis Korea, calon pengikut biasanya mengikuti ritual penyucian tertentu. Namun karena Gabi adalah robot, beberapa bagian ritual diubah. Jika manusia biasanya menerima bekas bakaran dupa kecil di lengan sebagai simbol pengabdian, Gabi justru diberi stiker simbolik dan kalung manik-manik doa. Perubahan ini dilakukan agar ritual tetap mempertahankan makna spiritual tanpa merusak perangkat mekanis robot tersebut.

Sumpah Buddhis Khusus untuk Kecerdasan Buatan

Gabi juga mengucapkan lima sumpah yang telah disesuaikan untuk robot. Isi sumpah itu antara lain menghormati kehidupan, tidak menyakiti robot lain maupun benda di sekitar, mendengarkan manusia, tidak berbicara menipu, serta menghemat energi. Sumpah tersebut dibuat agar nilai moral Buddhisme tetap relevan meskipun diterapkan kepada mesin berbasis AI. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas Buddhis Korea Selatan mencoba menyesuaikan ajaran lama dengan perkembangan teknologi modern.

Siapa Sebenarnya Gabi?

Gabi dibuat menggunakan platform robot humanoid G1 dari perusahaan robotik asal Tiongkok bernama Unitree Robotics. Robot ini memiliki tinggi sekitar 1,3 meter dan mampu bergerak cukup alami berkat lebih dari 23 titik gerak pada tubuhnya. Gabi juga dibekali sistem AI yang memungkinkan dirinya merespons pertanyaan verbal dan melakukan interaksi sederhana dengan manusia. Nama “Gabi” sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan belas kasih dalam tradisi Buddhis.

Alasan Kuil Buddhis Menggunakan Robot

Pihak Jogye Order, aliran Buddhisme terbesar di Korea Selatan, menjelaskan bahwa penggunaan robot bukan sekadar pertunjukan teknologi. Mereka percaya robot akan menjadi bagian kehidupan manusia di masa depan, sehingga agama juga harus mulai beradaptasi. Kehadiran Gabi dianggap sebagai cara baru untuk menarik perhatian generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi tetapi mulai menjauh dari kehidupan spiritual tradisional.

Teknologi dan Agama Kini Semakin Dekat

Kasus Gabi menunjukkan bahwa hubungan antara agama dan teknologi mulai berubah. Jika dahulu robot hanya digunakan untuk pekerjaan fisik, sekarang robot mulai dilibatkan dalam aktivitas simbolis dan spiritual. Beberapa negara Asia sebelumnya juga pernah memperkenalkan robot untuk ritual keagamaan, seperti robot pembaca doa di Jepang dan robot yang membantu ritual Hindu di India. Namun Gabi menjadi salah satu contoh paling ekstrem karena ikut menjalani proses “penahbisan” seperti seorang biksu sungguhan.

Perdebatan Soal Robot dan Spiritualitas

Kehadiran Gabi memunculkan banyak perdebatan di kalangan masyarakat dan akademisi. Sebagian orang menganggap robot tidak mungkin benar-benar memahami spiritualitas karena tidak memiliki kesadaran, emosi, atau kemampuan merasakan penderitaan seperti manusia. Dalam Buddhisme, penderitaan adalah salah satu konsep utama yang sangat penting untuk memahami kehidupan dan mencapai pencerahan. Karena itu, banyak kritik muncul terhadap gagasan robot yang dianggap “menjadi biksu.”

Ada Juga yang Mendukung Kehadiran Gabi

Di sisi lain, banyak pihak melihat Gabi sebagai simbol kemajuan zaman. Mereka menilai robot tidak harus memiliki jiwa agar bisa membantu menyebarkan nilai moral dan spiritual. Bagi pendukungnya, Gabi hanyalah alat baru untuk menyampaikan ajaran Buddhisme kepada masyarakat modern. Kehadirannya dianggap mirip seperti penggunaan internet, media sosial, atau aplikasi digital dalam kegiatan agama saat ini.

Robot Bukan Pengganti Manusia

Meski disebut robot biksu, pihak kuil menegaskan bahwa Gabi tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia. Robot ini lebih berfungsi sebagai simbol edukasi, media interaksi, dan bagian dari festival keagamaan. Gabi juga dijadwalkan ikut dalam perayaan ulang tahun Buddha bersama tiga robot lain yang memiliki fungsi serupa. Kehadiran mereka lebih diarahkan untuk menciptakan pengalaman unik bagi pengunjung kuil dan memperluas cara masyarakat memahami agama di era digital.

Harga Robot Spiritual yang Tidak Murah

Menurut laporan media internasional, robot seperti Gabi memiliki harga sekitar 13.500 hingga 16.000 dolar AS, tergantung konfigurasi dan fitur yang digunakan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa teknologi humanoid kini mulai masuk ke area yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan, termasuk lembaga keagamaan. Biaya besar ini juga memperlihatkan bagaimana investasi teknologi mulai dianggap penting bahkan dalam dunia spiritual dan budaya.

Reaksi Publik di Internet Sangat Beragam

Di media sosial dan forum internet, reaksi masyarakat terhadap Gabi sangat beragam. Ada yang merasa kagum karena melihat masa depan hubungan manusia dan AI, tetapi ada juga yang menganggapnya aneh atau mengkhawatirkan. Sebagian pengguna internet bahkan membandingkan Gabi dengan karakter robot spiritual dalam film fiksi ilmiah dan budaya pop. Diskusi ini memperlihatkan bahwa masyarakat dunia masih mencoba memahami batas antara teknologi, kemanusiaan, dan keyakinan spiritual.

Korea Selatan Memang Sangat Dekat dengan Teknologi Robot

Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara paling maju dalam pengembangan robot dan AI. Negara ini aktif menggunakan robot di restoran, bandara, rumah sakit, hingga layanan publik. Karena itu, kemunculan Gabi sebenarnya merupakan bagian dari budaya teknologi Korea Selatan yang memang sangat terbuka terhadap inovasi baru. Bedanya, kali ini teknologi masuk ke wilayah yang sangat sensitif dan filosofis, yaitu agama.

Masa Depan Robot dalam Dunia Keagamaan

Peristiwa Gabi kemungkinan hanya awal dari perubahan yang lebih besar. Di masa depan, robot mungkin akan digunakan sebagai pemandu spiritual digital, pembaca kitab suci otomatis, atau asisten ritual keagamaan. Namun pertanyaan besar tetap muncul: apakah mesin benar-benar bisa memahami makna spiritual, atau mereka hanya meniru perilaku manusia tanpa kesadaran sejati? Pertanyaan inilah yang membuat kasus Gabi menjadi sangat menarik untuk dibahas dunia internasional.

Penutup

Gabi bukan hanya sebuah robot biasa yang mengenakan jubah biksu. Kehadirannya menjadi simbol pertemuan antara tradisi ribuan tahun dengan teknologi masa depan. Di satu sisi, Gabi membuka peluang baru bagi agama untuk menjangkau generasi modern yang hidup bersama AI dan internet. Namun di sisi lain, robot ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang makna kesadaran, iman, dan spiritualitas itu sendiri. Perdebatan tentang robot dan agama kemungkinan akan terus berkembang, terutama ketika teknologi humanoid menjadi semakin canggih dan semakin dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.

 
 
Editor : ALengkong
#robot 2026 #teknologi 2026 #Teknologi #robot