Padel dan pickleball sama-sama sedang naik daun belakangan ini. Sekilas, keduanya terlihat mirip karena sama-sama dimainkan menggunakan raket di lapangan yang lebih kecil dibanding tenis. Namun, aturan permainan hingga perlengkapan yang digunakan ternyata cukup berbeda.
Padel merupakan olahraga raket yang dimainkan berpasangan di lapangan berdinding kaca, sehingga bola dapat memantul ke dinding selama permainan berlangsung. Berasal dari Meksiko, olahraga ini seperti perpaduan tenis dan squash karena menggunakan sistem skor seperti tenis (15-30-40), namun memanfaatkan pantulan dinding layaknya squash. Menurut Tom Tan, pelatih padel di SingPadel, olahraga ini dimainkan dengan bola tenis yang lebih kecil dan daya pantulnya lebih rendah karena memang didesain untuk memantul ke dinding.
Sementara itu, pickleball adalah olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis, badminton, dan tenis meja. Permainannya menggunakan bola plastik berlubang (wiffle ball) dan dimainkan di lapangan berukuran mirip lapangan badminton dengan net lebih rendah. Aturannya relatif mudah dipelajari sehingga populer di kalangan pemula maupun pemain dari berbagai usia.
Dari sisi raket, padel awalnya menggunakan raket kayu padat sejak populer pada 1969, sebelum akhirnya beralih ke bahan serat kaca, aluminium, hingga serat karbon yang membuat raket lebih ringan. Saat ini, berat raket padel berkisar 270-345 gram, menurut Marco Duarte, pendiri Play Padel Singapore. Raket dibedakan berdasarkan bentuk (bulat untuk pemula, air mata untuk menengah, permata untuk mahir), keseimbangan, berat, serta material. Harganya berkisar S$80 hingga di atas S$600.
Raket pickleball sendiri sudah ada sejak olahraga ini pertama dimainkan pada pertengahan 1960-an di Seattle, jelas Lim Ee Kiong, Ketua Asosiasi Pickleball Singapura (SPA). Kini material inti yang umum dipakai adalah polimer sarang lebah, menurut Dominik Kuhn, pendiri Pickleball Corner Singapore. Ada tiga jenis raket: power paddle untuk permainan tunggal agresif, control paddle untuk ganda yang mengutamakan kontrol, dan balanced paddle yang menyeimbangkan keduanya. Kuhn menyarankan pemain rekreasional memilih balanced paddle berbahan polimer seberat 224-235 gram. Harganya berkisar S$20 hingga S$500.
Secara umum, raket padel lebih tebal, lebih berat, dan berlubang di seluruh permukaan untuk menghasilkan pukulan lebih bertenaga. Sebaliknya, raket pickleball lebih ringan dan dioptimalkan untuk akurasi serta refleks cepat, sehingga satu raket tidak disarankan digunakan untuk kedua olahraga tersebut.
Dari sisi bola, bola padel mirip bola tenis namun lebih kecil dan bertekanan rendah sehingga pantulannya lebih lambat, membuat reli menjadi lebih panjang. Sementara itu, bola pickleball luar ruangan lebih keras, lebih berat (sekitar 25 gram), dengan 40 lubang kecil, sedangkan bola dalam ruangan lebih lembut, lebih ringan (sekitar 22 gram), dengan 26 lubang lebih besar.
Dari sisi lapangan, lapangan pickleball terbaik menurut Lim dilengkapi lantai akrilik agar bola dapat melekat dengan baik. Sementara itu, lapangan padel klasik untuk ganda berukuran 20m x 10m dikelilingi kaca dan jaring pagar, biasanya dilapisi rumput sintetis serta pasir silika halus agar bola dapat memantul sekaligus mencegah cedera lutut, jelas Duarte.
Terakhir, baik untuk padel maupun pickleball, sebaiknya tidak menggunakan sepatu lari. "Sepatu lari dirancang untuk pergerakan lurus, sedangkan dalam pickleball atau padel, sepatu harus punya stabilitas untuk gerakan menyamping dan sol tipis agar pergelangan kaki tidak mudah terkilir. Sepatu tenis dan bulu tangkis juga cocok," kata Lim.
Editor : ALengkong