MANADOPOSTID - Banyak orang beranggapan bahwa tidak pernah marah adalah tanda kedewasaan emosional. Namun menurut Parker, anggapan tersebut keliru. "Ketika orang berkata, 'Saya tidak pernah marah,' yang sebenarnya mereka maksud adalah mereka sangat pandai menahan amarah, sering kali dengan mengorbankan diri sendiri," ujarnya.
Parker menegaskan bahwa kemarahan sesungguhnya bukan emosi yang buruk. Sama seperti perasaan sedih, takut, atau bahagia, marah merupakan respons alami yang membantu seseorang menyadari ketika ada batasan yang dilanggar, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau ketidakadilan yang tengah dialami. Karena itu, yang perlu dipelajari bukan menghilangkan rasa marah, melainkan cara mengelolanya secara sehat.
Ia juga menyoroti kekeliruan umum yang sering terjadi, yakni menyamakan kemarahan dengan agresi atau kekerasan. Padahal, keduanya adalah dua hal berbeda. Agresi merupakan bentuk perilaku, sedangkan kemarahan adalah emosi. Dengan kata lain, seseorang tetap bisa merasakan marah tanpa harus melampiaskannya dengan cara yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Di sisi lain, memendam amarah dalam waktu lama justru dapat menimbulkan dampak negatif. Menurut Parker, kemarahan yang terus ditekan dapat memperpanjang respons stres tubuh, termasuk meningkatkan kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan. Ia juga menemukan bahwa orang yang terbiasa menekan amarah kerap mengalami kecemasan, karena emosi tersebut tidak pernah benar-benar diproses.
Alih-alih menekan atau justru meluapkan amarah secara berlebihan, Parker menyarankan sejumlah cara yang lebih sehat untuk mengelola emosi tersebut. Langkah pertama adalah mengakui bahwa rasa marah memang sedang muncul. Mengakui emosi bukan berarti membenarkan tindakan agresif, melainkan membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan sehingga dapat berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan.
Langkah berikutnya adalah mencari tahu penyebab sebenarnya di balik kemarahan tersebut. Menurut Parker, kemarahan sering kali bukan semata-mata disebabkan oleh orang lain, melainkan bisa menjadi petunjuk bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi, batasan yang dilanggar, atau pengalaman masa lalu yang belum selesai. Selain itu, kemarahan juga dapat disalurkan melalui aktivitas fisik seperti berjalan kaki, jogging, atau menari, yang membantu tubuh melepaskan ketegangan sehingga emosi menjadi lebih terkendali. Parker sendiri mengaku mulai memahami emosinya setelah rutin berlatih tinju. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar melampiaskan amarah dengan berteriak atau memukul benda.
Selain bergerak, kemarahan juga bisa disalurkan lewat cara-cara kreatif, seperti menulis jurnal, menggambar, melukis, atau menuangkan perasaan dalam bentuk karya, sehingga seseorang dapat memahami emosinya tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Setelah perasaan lebih tenang, barulah seseorang dapat memutuskan langkah yang perlu diambil, apakah situasi tersebut memang memerlukan tindakan seperti menyampaikan keberatan, menetapkan batasan, atau melakukan percakapan yang sulit dengan orang lain, atau justru cukup diselesaikan dengan memahami emosi yang muncul tanpa harus bereaksi berlebihan.
Editor : ALengkong