Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Remaja Inggris Nilai Rencana Jam Malam Media Sosial "Tidak Ada Gunanya" karena Bisa Dinonaktifkan

ALengkong • Jumat, 17 Juli 2026 | 16:01 WIB
British Teens (Foto : Independent UK)
British Teens (Foto : Independent UK)

Pemerintah Inggris mengumumkan rencana penerapan jam malam media sosial bagi remaja berusia 16 dan 17 tahun, yang akan membatasi akses aplikasi seperti Instagram, TikTok, dan YouTube secara default antara pukul 00.00 hingga 06.00 mulai musim semi mendatang. Meski aturan tersebut akan diterapkan secara bawaan pada akun pengguna, remaja tetap dapat menonaktifkan pembatasan ini lewat pengaturan akun mereka sendiri, sehingga penerapannya bersifat tidak wajib.

Selain jam malam, pemerintah juga berencana menonaktifkan fitur "adiktif" seperti autoplay dan infinite scroll sebagai bagian dari tahap terbaru upaya melindungi generasi muda dari bahaya daring. Rencana ini menuai beragam respons dari kalangan remaja yang menjadi sasaran utama kebijakan tersebut, dengan mayoritas menilai sifat opsional aturan ini membuat kebijakan tersebut kurang efektif.

Fitur Opt-Out Dinilai Melemahkan Tujuan Kebijakan

Harvey, remaja berusia 16 tahun asal wilayah tenggara Inggris, menilai sifat opt-out pada jam malam tersebut justru melemahkan efektivitas kebijakan secara keseluruhan. "I wasn't expecting [the curfew] to be opt-out, and having it as an opt-out renders the whole thing meaningless, because if someone is addicted to Instagram and there's a curfew but they can turn it off, they will turn it off," kata Harvey.

Harvey mengaku menggunakan Instagram, X, YouTube, dan Snapchat, dengan waktu penggunaan media sosial sekitar satu hingga dua jam per hari. Ia menyebut telah memiliki kesepakatan pembatasan penggunaan ponsel bersama orang tuanya, meski mengakui tidak semua remaja memiliki kesempatan serupa.

Ia menjelaskan bahwa ponselnya biasanya mati otomatis pukul 22.00 setiap hari, namun ia dapat mendiskusikan pengecualian dengan orang tuanya dalam situasi tertentu, misalnya untuk menonton pertandingan Inggris yang tayang larut malam. "Different circumstances demand different approaches," ujar Harvey, menambahkan bahwa selama musim ujian GCSE, ia kerap begadang belajar lewat tutorial YouTube sehingga penggunaan media sosialnya meningkat karena alasan akademik.

Harvey turut menyoroti kewajiban verifikasi usia sebagai salah satu masalah terbesar dalam kebijakan ini, karena dinilai menghilangkan konsep anonimitas internet. "I don't think there is one single solution to this problem," tutupnya, menekankan bahwa setiap remaja memiliki pengalaman berbeda dalam menggunakan media sosial.

"Kalau Tidak Wajib, Apa Gunanya?"

Archie, remaja 17 tahun yang tengah menempuh pendidikan A-level di Bedford, turut mempertanyakan sifat opsional dari kebijakan tersebut. "In theory, I like the idea, but the fact that it is not obligatory, then it's almost like, what's the point?" kata Archie, menambahkan bahwa dirinya tidak akan peduli jika Instagram memintanya berhenti menggunakan aplikasi karena aturan tersebut tidak bersifat wajib.

Archie mengaku telah memiliki pengaturan pembatasan pada aplikasi TikTok dan Instagram yang memberitahunya soal waktu penggunaan dan menyarankan istirahat, dengan total penggunaan media sosial sekitar tiga jam per hari. Meski mendukung pembatasan infinite scroll, ia berpendapat pembatasan semacam itu semestinya tidak hanya berlaku bagi anak-anak. "I think everyone could benefit from a check on this – adults too," tambahnya.

"Saya Seharusnya Boleh Pakai Media Sosial Kapan Pun Saya Mau"

Alex, remaja berusia 16 tahun asal Skotlandia, menilai rencana jam malam tersebut "konyol". Ia menunjukkan bahwa di Skotlandia, remaja berusia 16 tahun sudah secara hukum diperbolehkan pindah rumah, menikah, bekerja penuh waktu, keluar dari sistem pendidikan, hingga mendaftar wajib militer, namun tetap dibatasi menggunakan ponsel sesuai keinginan mereka.

Alex yang menggunakan TikTok, Instagram, dan Snapchat menghabiskan waktu beberapa jam per hari di media sosial, dengan kebiasaan menonton TikTok saat perjalanan ke kampus di pagi hari dan saat istirahat kerja. Ia menegaskan akan memilih menonaktifkan jam malam tersebut begitu diberlakukan. "Surely they know almost everyone is just going to turn the settings off," ujar Alex, menambahkan bahwa dirinya tidak tinggal bersama orang tua serta memiliki kesibukan kuliah dan bekerja sehingga merasa berhak menggunakan media sosial kapan pun ia mau.

Dukungan Terbatas, Namun untuk Kelompok Usia Berbeda

Meliha, remaja 16 tahun asal Coventry, West Midlands, yang tengah kuliah sekaligus bekerja, menyatakan tidak mendukung penerapan jam malam untuk kelompok usianya, namun setuju jika kebijakan tersebut diterapkan bagi anak di bawah 16 tahun. Ia berargumen bahwa remaja berusia 16 dan 17 tahun sudah cukup dewasa untuk melakukan berbagai hal, seperti hidup mandiri, membayar pajak, dan segera memiliki hak pilih dalam pemilu, sehingga penerapan jam malam bagi kelompok usia tersebut dinilai tidak masuk akal.

Meliha mengaku akan menonaktifkan jam malam begitu kebijakan tersebut diberlakukan, dengan alasan kebiasaan mengakses media sosial larut malam tidak memengaruhi kualitas tidurnya, ditambah beberapa sesi belajarnya kerap berlangsung hingga lewat tengah malam. Ia menggunakan Snapchat, TikTok, dan Instagram dengan total waktu penggunaan sekitar empat hingga lima jam per hari.

Meliha mendukung sifat opsional dari kebijakan jam malam tersebut. "The opt-out gives more of a choice rather than forcing a rule," katanya, menambahkan bahwa pendekatan fleksibel dinilai lebih tepat dibandingkan aturan tunggal yang kaku, mengingat setiap remaja memiliki pola penggunaan media sosial yang berbeda-beda.

Kebijakan yang Masih Menuai Perdebatan Luas

Rencana jam malam ini merupakan kelanjutan dari kebijakan sebelumnya yang diumumkan pada Juni lalu, yang akan sepenuhnya melarang anak di bawah 16 tahun mengakses sejumlah platform media sosial di Inggris. Sejumlah pakar keselamatan anak dan advokat perlindungan anak menyampaikan keraguan terhadap efektivitas jam malam bagi remaja yang lebih tua ini.

Perdebatan seputar kebijakan tersebut mencerminkan tantangan besar pemerintah dalam menyeimbangkan antara perlindungan generasi muda dari bahaya daring dan penghormatan terhadap otonomi remaja yang semakin dewasa, sebuah dilema yang tampaknya akan terus menjadi bahan diskusi hingga kebijakan ini resmi diberlakukan pada musim semi mendatang.

Editor : ALengkong
Sumber : https://www.theguardian.com/media/2026/jul/15/teenagers-verdic-britain-social-media-curfew-ban-whats-the-point, https://www.bbc.com/news/articles/c982857nlrlo
"Jam Malam Media Sosial" "Remaja Inggris" "Keselamatan Anak Daring" "Kebijakan Media Sosial"