Tren "2026 is the New 2016" Masih Viral, Warganet Nostalgia Gaya Hidup Satu Dekade Lalu

ALengkong • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:25 WIB
Ilustrasi tren nostalgia "2026 is the New 2016" yang viral di media sosial.
Ilustrasi tren nostalgia "2026 is the New 2016" yang viral di media sosial.

MANADOPOST.ID– Tren nostalgia bertajuk "2026 is the New 2016" masih ramai diperbincangkan di media sosial, dengan warganet berbondong-bondong membagikan foto, gaya berpakaian, hingga lagu-lagu populer dari satu dekade lalu.

Tren ini pertama kali muncul pada 31 Desember 2025, ketika pengguna TikTok dengan akun @taybrafang mengunggah video montase berisi momen-momen populer sepanjang 2016.

Tak lama setelahnya, pengguna TikTok lain, @joebro909, mengusulkan tanggal 1 Januari 2026 sebagai "hari reset" untuk menghidupkan kembali tren-tren internet dari 2016, yang kemudian menjadi bagian dari gerakan media sosial lebih besar bernama Great Meme Reset.

Sejak saat itu, warganet mulai membagikan foto dan video lama dari kamera roll mereka, menampilkan visual khas era tersebut seperti filter Snapchat berbentuk telinga anjing dan mahkota bunga, foto selfie dengan pencahayaan terlalu terang, hingga hasil jepretan kamera iPhone beresolusi rendah yang khas masa itu.

Dari sisi mode, gaya berpakaian yang kembali populer mencakup lipstik matte, alis tebal, kalung choker, celana jeans ketat, sweater oversized, celana jeans robek, hingga sepatu boot Doc Martens, sebagaimana dirangkum Trill Magazine.

Musik turut menjadi elemen penting dari tren ini, dengan lagu-lagu populer era 2016 seperti karya The Chainsmokers, Justin Bieber, dan Rihanna kembali ramai diputar dan dijadikan latar video nostalgia di berbagai platform.

Skala partisipasi dalam tren ini tergolong besar, dengan tagar #2016 yang telah digunakan lebih dari 1 juta kali di TikTok dan lebih dari 37 juta kali di Instagram, menurut data yang dihimpun ABC News pada Januari 2026.

Sejumlah selebriti turut ikut serta dalam tren ini, termasuk Kylie Jenner, John Legend, dan Reese Witherspoon, yang membagikan foto lama serta momen penting dari kehidupan mereka satu dekade silam.

Leah Faye Cooper, jurnalis sekaligus mantan editor Vogue yang kerap membahas persinggungan budaya dan mode, dalam wawancara dengan ABC News, Januari 2026, mengatakan orang-orang benar-benar merindukan masa yang terasa lebih sederhana dan penuh optimisme.

Cooper turut menambahkan bahwa fenomena nostalgia semacam ini sebenarnya sudah menjadi tren yang berlangsung cukup lama, bukan sekadar euforia sesaat di media sosial.

Menurut analisis Forbes, sebagian besar daya tarik tren ini berakar dari persepsi bahwa 2016 adalah masa yang relatif lebih "polos" dibandingkan lanskap internet saat ini, yang kini dipenuhi konten hasil kecerdasan buatan serta deepfake yang semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Forbes turut mencatat bahwa istilah seperti "doomscrolling" belum dikenal luas pada 2016, sementara kini istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan lanskap media sosial yang dipenuhi berita buruk dan perdebatan budaya yang berkepanjangan.

Dengan tren ini yang masih bertahan hingga pertengahan 2026, fenomena nostalgia digital semacam ini menunjukkan bagaimana warganet mencari kembali kenyamanan emosional lewat estetika dan budaya internet dari masa yang mereka anggap lebih sederhana.

Editor : ALengkong
nostalgia Instagram Tiktok tren media sosial