Prinsip ini mendorong anak muda untuk lebih selektif memilih barang, dengan preferensi memiliki satu barang yang mampu bertahan hingga sepuluh tahun dibandingkan lima barang murah yang cepat rusak, menurut catatan Pacific Media.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya konsumtif dan tekanan hidup perkotaan yang serba cepat, di mana banyak anak muda merasa lelah dengan tuntutan terus memiliki barang baru sekaligus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial.
Kelelahan finansial menjadi salah satu pendorong utama tren ini, mengingat biaya hidup tinggi di kota besar membuat banyak anak muda mempertanyakan apakah membeli barang mahal secara impulsif benar-benar berbanding lurus dengan kebahagiaan.
Selain faktor ekonomi, tekanan mental akibat paparan media sosial turut berperan besar, di mana melihat pencapaian materi orang lain setiap hari menciptakan perasaan tidak pernah cukup, sehingga minimalisme ditawarkan sebagai jalan keluar untuk berhenti membandingkan diri.
Sejumlah tokoh global seperti Marie Kondo dan gerakan The Minimalists turut menginspirasi jutaan anak muda di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk merapikan barang serta menyederhanakan hidup dengan fokus pada hal yang benar-benar bermakna.
Dari sisi fashion, tren ini tercermin lewat gaya berpakaian yang lebih rapi dan bersih, dengan warna-warna netral yang mudah dipadupadankan, misalnya kemeja putih sederhana yang bisa dikombinasikan dengan celana hitam, jeans biru, atau rok minimalis, sebagaimana dijelaskan ModaMuse.
Kepraktisan menjadi daya tarik utama gaya minimalis ini, karena cocok digunakan untuk berbagai aktivitas mulai dari kuliah, bekerja, hingga kegiatan santai tanpa perlu banyak variasi pakaian di lemari.
Tak hanya soal penampilan, banyak brand fashion ternama turut mengadopsi konsep minimalis dalam koleksi mereka karena dianggap timeless atau tidak lekang oleh waktu, sekaligus tetap memberikan kesan elegan dan modern bagi penggunanya.
Di kalangan pria, tren serupa juga terlihat lewat meningkatnya minat pada barang tahan lama dan benar-benar berguna, dengan konsep "buy less, choose better" yang menekankan kualitas material dan nilai pakai jangka panjang, menurut catatan IDN Times.
Dampak minimalisme ini juga meluas ke aspek kesejahteraan mental, di mana banyak anak muda merasakan pikiran menjadi lebih tenang setelah mengurangi barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan, menurut penjelasan Djeurnals.
Selain penyederhanaan ruang fisik, prinsip minimalis turut mendorong pengelolaan waktu dan energi yang lebih efisien, sehingga anak muda dapat menciptakan ruang lebih besar bagi aktivitas yang benar-benar bermakna dalam kesehariannya.
Dengan berbagai manfaat baik dari sisi finansial, lingkungan, maupun kesehatan mental, gaya hidup minimalis modern ini diperkirakan akan terus berkembang sebagai respons anak muda terhadap tekanan konsumerisme yang semakin tinggi di era digital.