Film epik terbaru Christopher Nolan, "The Odyssey", yang diadaptasi cukup dekat dari puisi epik karya Homer, menuai beragam reaksi baik dari sisi visual maupun pendekatan desain kostumnya. Meski film ini mengusung ambisi besar sebagai proyek IMAX, sejumlah kritikus menilai penggambaran dunia Mediterania dalam film tersebut justru terasa lebih menyerupai pesisir Eropa Utara ketimbang wilayah Mediterania yang identik dengan cerita aslinya.
Kritik ini muncul dari ulasan yang dipublikasikan Learning about Movies pada 17 Juli 2026, yang menyoroti bagaimana dunia yang dilalui Odysseus dalam perjalanannya ke barat digambarkan sebagai wilayah yang suram, minim cahaya, dan tandus dengan nuansa Anglo yang kental. Kritikus tersebut bahkan menyebut bahwa jika nama-nama karakter diganti dengan nama khas Irlandia atau Denmark, penonton akan sepenuhnya percaya bahwa latar film ini berada di kedua negara tersebut.
Minimnya Elemen Mitologi yang Dipertahankan
Salah satu sorotan utama dalam kritik tersebut adalah bagaimana Nolan mengurangi porsi elemen mitologi Yunani yang menjadi ciri khas kisah asli Homer. Karakter Athena, yang dalam puisi asli merupakan tokoh kunci sebagai dewi strategi perang dan kecerdasan, dalam film ini hanya muncul sekitar tiga menit dan diperankan sebagai sosok berjubah putih yang murung oleh Zendaya.
Film ini dibuka dengan intertitle bertuliskan "A Time of Apparent Magic", namun kritikus menilai Nolan justru menahan unsur magis tersebut dari penonton, tanpa kehadiran visual Zeus, Poseidon, ritual persembahan, nimfa laut, atau Hermes sepanjang film berlangsung. Pendekatan ini dinilai kontras dengan film-film sejenis sebelumnya seperti "Clash of the Titans" yang lebih berani menampilkan sosok para dewa secara visual.
Film ini juga dinilai kurang memanfaatkan konsep lokasi yang beragam dan kontras, berbeda dengan pendekatan blockbuster klasik seperti "The Empire Strikes Back" yang menghadirkan beberapa lokasi unik dan saling kontras untuk menciptakan efek visual yang lebih memikat sepanjang perjalanan tokoh utamanya.
Pendekatan Kostum yang Menolak Klise Sword-and-Sandal
Berbeda dengan kritik visual tersebut, laporan dari Vogue yang dipublikasikan 20 Juli 2026 menyoroti pendekatan unik yang diambil tim kostum dalam menghindari klise genre sword-and-sandal Hollywood pada umumnya. Perancang kostum film, Ellen Mirojnick, yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Nolan dalam "Oppenheimer", menjelaskan bahwa Nolan memang memiliki keengganan terhadap klise sinematik seputar zaman kuno.
"We were not after a historical period. We were after a timeless period," ujar Mirojnick, menjelaskan filosofi di balik desain kostum yang tetap ingin terasa kuno namun tidak terjebak dalam gambaran periode Zaman Perunggu yang kaku. Ia menggunakan material yang tersedia pada masa itu, seperti linen, kulit, dan perunggu, meski secara sengaja menghindari kesan perunggu yang mengilap seperti lazimnya dalam film-film sword-and-sandal.
Mirojnick menjelaskan bahwa dunia dalam "The Odyssey" digambarkan sebagai tempat yang lelah, dihantui, bernoda garam, dan retak, sehingga setiap kostum harus membawa perasaan tersebut. Karakter Odysseus yang diperankan Matt Damon beserta krunya dikenakan perunggu yang telah menua dan kulit yang tampak telah teruji pertempuran, dengan penekanan pada tekstur, bobot, serta kesan erosi pada material yang digunakan.
Karakter Odysseus yang Terus Berevolusi Sepanjang Cerita
Merancang kostum untuk karakter Odysseus menjadi tantangan tersendiri bagi Mirojnick, mengingat karakter tersebut mengalami kemerosotan, rekonstruksi, penyamaran, adaptasi, dan bertahan hidup sepanjang cerita. "Odysseus, in our story, deteriorates, he reconstructs, disguises, adapts, survives. He's evolutionary," jelas Mirojnick, menekankan bahwa tantangan desain terbesar adalah membuat penonton merasakan proses kemerosotan tersebut tanpa kehilangan inti karakter yang mendefinisikan Odysseus.
Sementara itu, di Ithaca, tempat Penelope yang diperankan Anne Hathaway dan putranya Telemachus yang diperankan Tom Holland menunggu kepulangan Odysseus, satu-satunya kilau perunggu yang benar-benar ditampilkan dalam film justru berada pada kostum para pelamar yang mengejar Penelope, termasuk karakter Antinous yang diperankan Robert Pattinson dengan hiasan kuningan rumit pada busananya.
Kostum Para Dewi yang Menekankan Fungsi Ketimbang Fantasi
Kostum para tokoh dewi dalam film ini turut dirancang dengan pendekatan yang menekankan utilitas ketimbang unsur fantasi berlebihan. Karakter Athena yang diperankan Zendaya digambarkan lewat kesederhanaan dan kesan terkendali, dibalut jubah linen berwarna putih gading yang mencerminkan otoritas tenang sebagai penasihat Odysseus.
Pendekatan serupa diterapkan pada karakter Calypso yang diperankan Charlize Theron, sosok yang menahan Odysseus di pulaunya selama tujuh tahun dalam cerita. "Her costumes are grounded in the reality of the environment she's connected to, which is nature, eternity and isolation," jelas Mirojnick, menambahkan bahwa Calypso mengenakan gaun berlapis jaring yang dibayangkan digunakan sang nimfa untuk menangkap ikan di lingkungan alaminya.
Karakter Circe turut mendapat pendekatan praktis serupa, meski dengan filosofi berbeda. Alih-alih kostum yang membantu fungsinya secara langsung, Mirojnick menciptakan busana yang mencerminkan sifat memikat Circe dan seluruh pengelana yang pernah melintasi jalannya. "She has accumulated the artefacts from every single traveller that has passed her door, and she wears them with great pride," jelas Mirojnick, menggambarkan bagaimana kostum tersebut membentuk identitas visual karakter tersebut saat para pelaut tiba di wilayahnya.
Dua Sisi Penilaian terhadap Karya Terbaru Nolan
Dengan kombinasi kritik tajam terhadap pilihan visual dan lokasi syuting di satu sisi, serta apresiasi terhadap pendekatan desain kostum yang berani keluar dari pakem genre di sisi lain, "The Odyssey" tampaknya menjadi proyek Nolan yang memancing perdebatan luas di kalangan kritikus maupun pengamat industri film. Perbedaan penilaian ini mencerminkan bagaimana ambisi besar sebuah proyek sinema epik dapat menghasilkan penilaian yang sangat beragam tergantung aspek mana yang menjadi fokus penilaian, baik dari sisi world-building maupun detail artistik seperti kostum para karakternya.
Editor : ALengkong