MANADOPOST.ID- Teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan atau AI-powered wellness semakin digandrungi sepanjang 2026, mencakup berbagai aspek mulai dari analisis nutrisi personal hingga pelacakan kualitas tidur yang semakin canggih.
Tidur kini menjadi salah satu topik wellness paling banyak dibicarakan tahun ini, dengan fokus yang bergeser dari sekadar menghitung jam tidur menjadi memperhatikan kualitas tidur, masa pemulihan tubuh, ritme sirkadian, variabilitas detak jantung, hingga tingkat stres.
Perangkat wearable, smart ring, gelang kebugaran, dan aplikasi kesehatan kini mengubah tidur menjadi metrik kesehatan harian, di mana orang mulai memeriksa fase deep sleep, REM, detak jantung istirahat, kadar oksigen, dan skor pemulihan tubuh, sama seringnya seperti dulu memeriksa jumlah langkah kaki.
Tren ini turut mendapat dorongan besar dari sisi teknologi, salah satunya lewat rebranding aplikasi Fitbit menjadi Google Health yang kini dilengkapi AI Health Coach serta analisis kesehatan yang lebih mendalam bagi penggunanya.
Dari sisi kebugaran secara umum, adopsi metode fitness digital tercatat melonjak lebih dari 30 persen sejak 2021, dengan penggunaan aplikasi fitness berbasis AI secara khusus tumbuh sekitar 17 persen setiap tahunnya.
Aplikasi fitness berbasis AI kini mampu mengakses data dari perangkat wearable, timbangan pintar, pelacak nutrisi, dan aplikasi kesehatan lain sekaligus, sehingga menciptakan gambaran kesehatan pengguna yang jauh lebih menyeluruh dan rekomendasi yang lebih personal.
Wearable tech sendiri dinobatkan sebagai tren kebugaran nomor satu dunia untuk 2026 oleh American College of Sports Medicine, dengan hampir separuh orang dewasa di Amerika Serikat sudah memiliki perangkat wearable, sementara pasar smartwatch global diproyeksikan menembus 49 miliar dolar AS tahun ini.
Smart ring atau cincin pintar tercatat sebagai kategori wearable dengan pertumbuhan tercepat, didorong oleh kemampuan pelacakan tidur serta pemantauan kesehatan setara standar medis, termasuk kemampuan baru berupa prediksi dini potensi penyakit dan estimasi tekanan darah.
Meski tren ini membawa banyak manfaat, sejumlah pihak turut mengingatkan agar pelacakan tidur tetap berfungsi membantu memperbaiki kebiasaan, bukan justru menimbulkan kecemasan baru bagi penggunanya.
Fenomena bernama "sleepmaxxing" pun mulai disorot, di mana masyarakat menggunakan kombinasi suplemen, wearable, sistem pendingin, kasur pintar, hingga rutinitas tidur yang sangat ketat demi mengejar skor tidur sempurna, yang berpotensi membuat orang justru berhenti mendengarkan sinyal alami tubuhnya sendiri.
Penelitian di bidang ini turut terus berkembang, termasuk studi 2026 mengenai terapi digital berbasis ritme sirkadian yang mengeksplorasi bagaimana alat digital tanpa resep dapat membantu penderita insomnia kronis memperbaiki pola tidurnya.
Dengan kombinasi antara kemudahan teknologi dan kesadaran akan pentingnya keseimbangan, AI-powered wellness diperkirakan akan terus berkembang sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern, selama tetap digunakan secara bijak dan tidak berlebihan.
Editor : ALengkong