MANADOPOSTID - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, menjelaskan bahwa burnout atau kelelahan kerja dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi, sehingga membuatnya lebih mudah tersulut, bersikap sinis, kehilangan empati, hingga bertindak impulsif di media sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan dugaan perundungan oleh tenaga kesehatan terhadap dirinya di media sosial. Yurizal sebelumnya sempat mengeluhkan lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Menurut Ratih, seseorang yang mengalami burnout tengah berada dalam kondisi kelelahan fisik dan mental sekaligus, sehingga membuatnya lebih mudah tersinggung, sinis, kehilangan empati, serta mengalami penurunan kemampuan mengendalikan impuls. Direktur Personal Growth, lembaga layanan psikologi tersebut, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat seseorang menjadi lebih rentan mengunggah komentar atau konten yang sebenarnya tidak akan dilakukannya dalam kondisi emosi yang stabil.
Ratih menambahkan bahwa tekanan, frustrasi, dan kelelahan turut membuat media sosial menjadi tempat pelampiasan emosi, mengingat platform tersebut mudah diakses kapan saja. Dalam dunia psikologi, kondisi ketika seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri di ruang digital dikenal dengan istilah online disinhibition effect. Ia menjelaskan bahwa karakteristik media sosial membuat seseorang cenderung lebih mudah bereaksi secara bebas dan emosional dibandingkan saat berinteraksi secara langsung, karena adanya jarak, anonimitas, dan minimnya konsekuensi yang langsung terlihat, sehingga kontrol diri lebih mudah terabaikan.
Meski demikian, Ratih menegaskan bahwa burnout tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Menurutnya, burnout dapat menjadi faktor risiko, namun setiap individu tetap memiliki tanggung jawab atas perilakunya sendiri.
Ia menyarankan agar orang yang sedang mengalami tekanan atau kelelahan mengenali kondisi emosinya terlebih dahulu sebelum berinteraksi di media sosial. Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi perilaku impulsif di ruang digital antara lain membatasi paparan media sosial saat sangat lelah, menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja dengan baik, serta memiliki saluran pelepasan stres yang sehat.
Ratih turut mengingatkan pentingnya memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu ketika sedang dikuasai emosi, atau yang ia sebut sebagai prinsip pause before posting. Menurutnya, memberikan waktu beberapa menit hingga beberapa jam sebelum mengunggah konten dapat membantu kondisi emosi seseorang menjadi lebih stabil terlebih dahulu.
Editor : ALengkong