Dokter Saraf Sebut Pasien Heatstroke Perlu Segera Mendapat Pendinginan

ALengkong • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:03 WIB
Ilustrasi heatstroke (doc: Freepik)
Ilustrasi heatstroke (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi, Sp.N., M.Si.Med., mengingatkan bahwa pasien heatstroke perlu segera mendapat penanganan pendinginan, misalnya dengan membawanya ke ruangan yang sejuk.

Ia menjelaskan, cuaca panas seperti saat ini mempermudah terjadinya kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi, yang biasanya dipicu oleh aktivitas berlebihan, kurangnya asupan cairan, serta kondisi tubuh yang tidak fit. Pernyataan tersebut disampaikannya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu (12/8).

Setelah dibawa ke tempat yang sejuk, pakaian yang menghalangi tubuh untuk berkeringat juga perlu dilonggarkan. Proses pendinginan dapat dilakukan dengan membasahi atau mengompres permukaan tubuh sambil dikipasi, sementara pemberian cairan lewat minuman hanya boleh dilakukan pada orang yang masih dalam kondisi sadar penuh. Sholihul mengingatkan, seseorang dengan penurunan kesadaran tidak boleh dipaksa untuk minum dan perlu segera mendapat penanganan medis, termasuk pemberian cairan melalui infus serta pemantauan fungsi ginjal, hati, jantung, dan otak.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan risiko heatstroke selama musim kemarau, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan. Menurut Sholihul, risiko tersebut juga dapat meningkat pada orang dengan gangguan sistem regulasi berkeringat, termasuk akibat penggunaan obat tertentu seperti antihistamin dan beta blocker.

Ia menjelaskan bahwa gejala akibat paparan panas umumnya muncul secara bertahap. Pada kondisi ringan yang dikenal sebagai heat cramps, seseorang bisa mengalami rasa haus disertai keringat berlebihan dan kram otot. Kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau kelelahan akibat panas, yang ditandai peningkatan suhu tubuh, biasanya masih di bawah 40 derajat Celsius, nadi cepat namun lemah, pusing, sakit kepala, dan mual, dengan penderita umumnya masih dalam kondisi sadar penuh pada tahap ini.

Sementara itu, heatstroke merupakan kondisi yang jauh lebih berat, ditandai suhu tubuh melebihi 40 derajat Celsius disertai gangguan fungsi otak. Sholihul menjelaskan, pada tahap ini dapat terjadi gangguan fungsi otak berupa penurunan kesadaran seperti meracau, kejang, hingga koma, disertai kegagalan fungsi ginjal, hati, serta gangguan pembekuan darah.

Ia menambahkan, sejumlah kelompok lebih rentan mengalami heatstroke saat cuaca panas, di antaranya lansia, orang yang menggunakan obat tertentu, orang dengan kegemukan, mereka yang melakukan aktivitas berat tanpa proses aklimatisasi, serta orang dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal.

Editor : ALengkong
Heatstroke Serangan panas sengatan panas