Bukan Cuma Kopi, Ini Alasan Kerja di Kedai Kopi Bisa Lebih Produktif

ALengkong • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Ilustrasi pekerja kafe (doc: Freepik)
Ilustrasi pekerja kafe (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Bekerja atau belajar di kedai kopi kini menjadi kebiasaan yang cukup umum. Laptop dibuka, kopi dipesan, lalu pekerjaan yang sebelumnya terasa sulit dikerjakan di rumah justru bisa selesai lebih cepat, sampai-sampai muncul istilah WFC atau Work From Cafe untuk menyebut fenomena ini. Menariknya, kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan kopi atau kandungan kafein, melainkan suasana kedai kopi, suara percakapan di sekitar, keberadaan orang lain, hingga perubahan tempat dari rumah ke ruang publik yang turut memengaruhi cara seseorang berkonsentrasi.

Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah suara latar atau ambient noise. Kedai kopi biasanya tidak benar-benar sunyi, ada suara mesin kopi, percakapan pengunjung, musik, hingga aktivitas barista. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research menemukan bahwa tingkat kebisingan sedang sekitar 70 desibel dapat meningkatkan performa pada tugas yang membutuhkan kreativitas dibandingkan lingkungan yang lebih tenang, meski kebisingan yang terlalu tinggi justru dapat mengganggu kreativitas. Tentu, efeknya tidak berlaku untuk semua orang, karena ada yang bisa berkonsentrasi dengan suara ramai, tetapi ada pula yang justru membutuhkan suasana tenang.

Faktor lain berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai social facilitation, yaitu kecenderungan seseorang menunjukkan perubahan perilaku atau performa ketika berada di sekitar orang lain. Penelitian mengenai penggunaan kedai kopi sebagai tempat bekerja menemukan bahwa sebagian pengunjung memang datang untuk bekerja atau belajar secara individual, namun tetap merasakan semacam kebersamaan karena berada di tengah orang-orang yang melakukan aktivitas serupa, meskipun tidak saling berinteraksi. Sederhananya, melihat orang lain fokus bekerja dapat ikut mendorong seseorang melakukan hal yang sama.

Kedai kopi juga memberi batas yang jelas antara suasana santai dan bekerja, berbeda dari rumah yang identik dengan istirahat, tempat tidur, televisi, atau berbagai hal lain yang mudah mengalihkan perhatian. Perjalanan menuju kedai kopi, memilih meja, membuka laptop, dan menyiapkan pekerjaan bisa menjadi semacam tanda bagi otak bahwa sudah waktunya masuk ke mode produktif. Penelitian tentang penggunaan kedai kopi sebagai ruang kerja juga menemukan bahwa orang memilih tempat tersebut untuk meningkatkan produktivitas, belajar, bekerja, dan mendapatkan perubahan suasana dari rumah.

Selain itu, kedai kopi memiliki batas waktu yang secara tidak langsung dapat membuat seseorang lebih fokus. Ketika seseorang tahu ia hanya akan berada di kedai kopi selama beberapa jam, kondisi tersebut dapat mendorongnya menentukan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pulang, berbeda dengan bekerja di rumah yang terasa tidak memiliki batas waktu sehingga pekerjaan lebih mudah ditunda. Produktivitas juga tidak selalu berkaitan dengan faktor kognitif semata, karena pencahayaan, suhu ruangan, suara latar, aroma kopi, dan suasana tempat secara keseluruhan dapat membuat aktivitas bekerja terasa lebih menyenangkan, sebagaimana ditunjukkan penelitian mengenai lingkungan kerja yang mengaitkan kualitas pengalaman sensorik suatu ruang dengan persepsi terhadap produktivitas.

Meski begitu, efek "lebih produktif di kedai kopi" tidak berlaku untuk semua orang. Kedai yang terlalu ramai, musik yang terlalu keras, atau percakapan di sekitar justru dapat mengganggu konsentrasi, terutama jika pekerjaan membutuhkan fokus mendalam atau membaca materi yang rumit. Oleh karena itu, tidak perlu memaksakan diri bekerja di kedai kopi hanya karena tren work from cafe sedang populer, karena tempat kerja terbaik pada akhirnya adalah tempat yang membuat seseorang bisa mempertahankan fokus tanpa terlalu banyak gangguan, baik itu kedai kopi, kamar sendiri, maupun ruang lain yang terasa paling nyaman.

Editor : ALengkong
#kopi #cafe #kedai kopi