MANADOPOST.ID — Persaingan di industri kreatif Sulawesi Utara tak selalu dimenangkan rumah produksi dengan peralatan dan sumber daya besar.
Dari Desa Wisata Talawaan, sekelompok pemuda justru mencuri perhatian setelah karya video mereka keluar sebagai juara pertama Lomba Video Storytelling Urban Digifest 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara.
Karya tersebut digarap kreator konten sekaligus videografer Dirrel Lukye bersama Yume, Windi, dan Christian.
Mereka membawa cerita dari lingkungan sendiri ke dalam sebuah karya visual yang kemudian mampu bersaing dengan peserta dari kalangan sineas dan production house (PH) di Manado.
Bagi tim ini, kemenangan tersebut terasa istimewa karena karya lahir dari semangat sederhana untuk memperkenalkan potensi lokal.
Tanpa membawa nama besar rumah produksi, mereka mengandalkan kekuatan ide, pengambilan gambar, penyuntingan, serta storytelling yang dinilai mampu memikat perhatian juri.
"Kami ini hanyalah anak-anak dari kampung Desa Talawaan. Sama sekali tidak menyangka bisa keluar sebagai juara pertama se-Sulut, apalagi ternyata bisa bersaing dengan PH hebat di Manado," kata Dirrel.
Dirrel sendiri selama ini aktif menggerakkan potensi pariwisata di desanya. Karena itu, cerita mengenai Talawaan menjadi bagian penting dari karya yang mereka produksi.
Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi talenta kreatif dari desa untuk masuk dalam persaingan industri digital di tingkat provinsi. Keterbatasan fasilitas maupun latar belakang bukan lagi menjadi satu-satunya penentu kualitas sebuah karya.
Bagi Desa Wisata Talawaan, kemenangan itu juga menjadi promosi tersendiri. Kreativitas anak muda tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi turut memperkuat cara baru dalam memperkenalkan destinasi dan potensi desa kepada khalayak yang lebih luas.
Ajang Urban Digifest 2026 pun menjadi panggung pembuktian bahwa cerita lokal yang dikemas secara autentik dapat memiliki daya saing tinggi.
Dari kampung, karya mereka berhasil menembus persaingan tingkat Sulawesi Utara dan membawa nama Talawaan semakin dikenal dalam ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Kemenangan tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi pemuda di desa-desa lain di Sulut untuk berani mengembangkan kemampuan di bidang konten digital, videografi, storytelling, dan pariwisata.
Pesannya sederhana: karya tak harus lahir dari tempat besar untuk menjadi besar. Dengan ide yang kuat dan dikerjakan secara serius, cerita dari desa pun bisa mendapat panggung di tingkat provinsi. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos