Manusia Masih Sangat Penting untuk Keamanan Siber Meski AI Makin Cakap

ALengkong • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:35 WIB
Ilustrasi orang koding (doc: Freepik)
Ilustrasi orang koding (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Edukator dari perusahaan keamanan siber Kaspersky menyatakan bahwa peran manusia masih sangat penting dalam memastikan keandalan keamanan siber, meski kecerdasan artifisial (AI) saat ini sudah makin banyak diimplementasikan untuk menangani bidang tersebut.

Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, menyatakan bahwa meski AI kini sudah cakap dalam mempertahankan suatu sistem keamanan siber ataupun melakukan serangan, penilaian dan pemikiran kritis manusia tetap memainkan peran krusial. Ia menyampaikan hal itu lewat acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8), dengan menegaskan bahwa ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia justru menjadi jauh lebih penting.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa saat ini secara global terjadi masalah kekurangan tenaga ahli keamanan siber, di tengah peningkatan implementasi AI untuk menangani bidang tersebut. Kondisi ini terungkap lewat studi International Information System Security Certification Consortium (ISC2) 2025, yang menunjukkan bahwa AI telah benar-benar mengubah lanskap industri terkait pekerjaan di bidang keamanan siber. Bahkan, 47 persen organisasi bisnis di dunia kini menempatkan pelatihan AI untuk keamanan siber sebagai prioritas.

Di samping mulai tingginya implementasi AI untuk menjaga keamanan siber, ancaman serangan siber oleh AI juga turut meningkat. Sebanyak 40 persen organisasi bisnis secara global setidaknya pernah mengalami kerugian akibat serangan siber yang ditimbulkan oleh AI, mulai dari serangan berupa deepfake hingga penipuan identitas. Karena itu, Evgeniya menekankan bahwa jika model AI kini sudah bisa melancarkan penyerangan siber, maka manusia yang melawannya pun harus memahami cara kerja model AI tersebut.

Lebih detail, Evgeniya menjelaskan bahwa kawasan Asia Pasifik menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia. Dalam lingkup yang lebih kecil, yakni kawasan Asia Tenggara, masalah ahli keamanan siber ternyata turut disebabkan oleh faktor pengalaman, yang membuat para talenta digital keamanan siber pemula justru tidak mendapat kesempatan untuk mengasah diri. Studi yang sama menyebut 65 persen pekerjaan keamanan siber di Asia Tenggara mensyaratkan pengalaman kerja minimal tiga tahun, dan hal ini justru menjadi salah satu penyumbang terjadinya kesenjangan talenta siber secara global.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Evgeniya menyampaikan bahwa dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara akademisi, industri, dan pembuat kebijakan di tiap negara, agar proses pencetakan talenta digital keamanan siber dapat berjalan optimal sekaligus mengatasi kesenjangan yang saat ini terjadi. Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, kolaborasi tersebut diharapkan juga dapat menangani masalah kurangnya instruktur keamanan siber yang kompeten untuk melatih generasi yang lebih muda, serta mengatasi terbatasnya ketersediaan materi pelatihan dalam bahasa lokal masing-masing negara.

 
Editor : ALengkong
#AI #keamanan siber #AI driven security