Lima Tanda Seseorang Sedang Masuk Mode Bertahan Hidup

ALengkong • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:38 WIB
Ilustrasi seseorang sedang fokus (doc: Freepik)
Ilustrasi seseorang sedang fokus (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Ketika menghadapi tekanan berat, baik dari pekerjaan maupun persoalan pribadi, seseorang dapat masuk ke dalam kondisi yang dikenal sebagai survival mode atau mode bertahan hidup. Dalam kondisi ini, seseorang mungkin terlihat tetap baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan yang cukup besar di dalam dirinya.

Mode bertahan hidup membuat seseorang lebih fokus melewati situasi sulit tanpa menambah beban baru. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara otak memproses informasi, mengelola emosi, hingga merespons berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjadi lebih mudah lupa. Ketika otak terus-menerus berfokus pada potensi ancaman dan berbagai tuntutan, energi untuk menjalankan fungsi seperti memori kerja, perhatian, perencanaan, dan pengambilan keputusan dapat berkurang. Akibatnya, seseorang bisa lupa dengan hal yang ingin disampaikan atau lupa meletakkan barang.

Kedua, sering terbangun pada dini hari. Seseorang yang berada dalam tekanan dapat terbangun di tengah malam dan kesulitan untuk kembali tidur. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh beristirahat, tetapi pikiran masih dipenuhi rasa cemas atau kekhawatiran sehingga sistem saraf tetap berada dalam keadaan waspada.

Ketiga, menjadi lebih mudah tersinggung. Tekanan dan kelelahan dapat membuat seseorang lebih reaktif terhadap gangguan kecil. Hal yang biasanya dianggap sepele pun dapat memicu kemarahan atau emosi negatif karena respons terhadap stres menjadi lebih sensitif.

Keempat, terlalu lama memikirkan emosi negatif. Dalam mode bertahan hidup, seseorang bisa lebih sering terjebak dalam pikiran mengenai perasaan negatif dan semakin jarang merasakan emosi positif. Jika berlangsung terlalu lama, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap stres berkepanjangan.

Kelima, muncul keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Ketika kehidupan terasa tidak teratur, seseorang mungkin menjadi lebih perfeksionis dan ingin segala hal berjalan sesuai rencana. Dorongan tersebut tidak selalu bertujuan mengendalikan orang lain, tetapi dapat menjadi usaha untuk menciptakan rasa aman dan situasi yang lebih mudah diprediksi.

Untuk membantu keluar dari kondisi tersebut, seseorang dapat mencoba menarik napas dalam melalui hidung dan mengembuskannya melalui mulut sambil mengingatkan diri bahwa dirinya berada dalam keadaan aman. Memperhatikan hal-hal di sekitar melalui apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan juga dapat membantu tubuh beralih dari kondisi fight or flight menuju keadaan yang lebih tenang.

Editor : ALengkong
#burnout #mentalhealth #self awareness