MANADOPOST.ID — Tiga tahun bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner menjadi momentum tersendiri bagi JANGKAR Tomohon.
Kafe yang dikenal dengan sajian kopi dan camilan itu tak hanya merayakan pertambahan usia, tetapi sekaligus memperkenalkan langkah baru lewat hadirnya restoran Wale Ni Ina di Walian.
Perayaan tersebut menjadi lebih istimewa karena dirangkaikan dengan syukuran bisnis baru milik Rivaldy Tehamen. Di usia yang masih 27 tahun, ia mulai memperluas usaha dari konsep kafe menuju restoran dengan karakter yang berbeda.
JANGKAR sendiri selama tiga tahun terakhir mempertahankan konsep sebagai tempat nongkrong dengan kopi sebagai salah satu menu andalan.
Beragam varian kopi dan snack menjadi bagian dari perjalanan usaha yang membuat kafe tersebut tetap bertahan hingga memasuki tahun ketiganya.
Bagi Rivaldy, perjalanan tersebut tidak lepas dari dukungan pelanggan yang terus datang dan memberikan kepercayaan kepada JANGKAR.
“Bersyukur bisa sampai di usia tiga tahun. Ini tentu tidak lepas dari dukungan customer yang selama ini terus datang dan mendukung,” ujar Rivaldy.
Namun, perayaan tahun ketiga JANGKAR sekaligus menjadi penanda perubahan arah bisnis. Wale Ni Ina hadir dengan konsep restoran yang dibuat lebih terarah, mulai dari suasana ruang, dekorasi, hingga pilihan menu yang disiapkan.
Restoran tersebut nantinya mengusung makanan khas Minahasa dengan konsep halal. Pilihan waktu operasionalnya juga berbeda dengan JANGKAR yang selama ini lebih identik dengan aktivitas sore hingga malam hari.
“Kami akan buka dari pagi dan menyajikan sarapan,” katanya.
Konsep itu membuat Wale Ni Ina tidak sekadar menjadi perluasan dari JANGKAR. Rivaldy mengatakan, restoran tersebut memang dirancang sebagai bisnis dengan identitas tersendiri.
Menariknya, nama Wale Ni Ina memiliki cerita personal bagi keluarga Rivaldy. Sebelum nama tersebut dipilih, ia mengaku sempat memiliki gagasan untuk menggunakan nama JANGKAR 2.
Ide itu kemudian berubah setelah dirinya berdiskusi dengan sang oma. Dari pembicaraan tersebut, muncul nama Wale Ni Ina yang berarti Rumah Ibu.
Meski sang oma kini telah meninggal dunia, gagasan tersebut justru menjadi bagian penting dari identitas restoran yang sedang dibangun.
“Pembangunan tempat ini sudah dari tahun lalu dikerjakan. Namanya sendiri terinspirasi dari ide oma. Oma sudah meninggal, tapi beliau yang memberi ide nama tempat ini, yang berarti Rumah Ibu. Tempat ini juga hadir sebagai tribute untuk oma,” tutur Rivaldy.
Karena itu, Wale Ni Ina membawa makna yang lebih personal dibanding sekadar ekspansi usaha. Restoran tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada sosok keluarga yang ikut memberikan inspirasi di balik pemilihan nama.
Perayaan di Walian itu pun memiliki makna berlapis. Selain memperingati tiga tahun perjalanan JANGKAR dan mensyukuri hadirnya Wale Ni Ina, momen tersebut turut dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun ayah Rivaldy.
Tiga momentum itu kemudian dipertemukan dalam satu acara sebagai bentuk rasa syukur sekaligus membuka babak baru perjalanan bisnis keluarga.
Rivaldy berharap pertambahan usia JANGKAR dan kehadiran Wale Ni Ina dapat membawa perkembangan positif bagi usaha yang dijalankannya. Ia juga ingin bisnis tersebut terus bertumbuh, melakukan ekspansi, sekaligus tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan.
“Semoga di usia yang baru, bisnis makin lancar, terus berekspansi, dan bisa terus menyenangkan customer,” pungkasnya. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos