Khotbah Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh: MTPJ GMIM 20-26 September 2026, Yohanes 10:1-21

Tanya Rompas • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 12:20 WIB
Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh
Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh

MTPJ 20-26 SEPTEMBER 2026

YOHANES 10:1-21

TEMA : AKU MENGENAL DOMBA-DOMBAKU DAN DOMBA-DOMBAKU MENGENAL AKU

PENULIS : PDT. DR. STEFANUS FERLY MAWITJERE, M. TH

SAUDARA-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam Injil Yohanes terdapat satu sisi spesial dengan makna Kristologi yang sangat tinggi menjelaskan tentang KEILAHIAN YESUS (Latin: Deitas Christi) yaitu ketika Yesus menyatakan identitas-Nya melalui tujuh pernyataan EGO EIMI PREDIKATIF (ἐγώ εἰμι, "Akulah"): Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Akulah roti hidup 6:35), Ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου (Akulah terang dunia 8:12), Ἐγώ εἰμι ἡ θύρα (Akulah pintu 10:7, 9), Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός (Akulah gembala yang baik 10:11, 14), Ἐγώ εἰμι ἡ ἀνάστασις καὶ ἡ ζωή (Akulah kebangkitan dan hidup 11:25), Ἐγώ εἰμι ἡ ὁδὸς καὶ ἡ ἀλήθεια καὶ ἡ ζωή (Akulah jalan, kebenaran, dan hidup 14:6), dan Ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος ἡ ἀληθινή (Akulah pokok anggur yang benar 15:1). Tujuh frasa Ego Eimi menggemakan nama Allah dalam Keluaran 3:14, ketika Allah berkata kepada Musa sebagai ֶאְהֶיה רשֲׁאֶ ֶאְהֶיה (Ehyeh Asher Ehyeh), "AKU ADALAH AKU", yang kemudian dalam septuaginta (LXX) diterjemahkan dengan istilah Ego Eimi. Karena itu, ketika Injil Yohanes berulang kali menempatkan Ego Eimi sebagai perkataan Yesus, pembaca diajak melihat lebih jauh daripada sekadar gelar atau metafora. Yohanes sedang membawa kita memasuki misteri identitas Yesus: siapakah Dia sesungguhnya? Dialah Allah yang datang ke dunia menjadi manusia, Dia sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, perikop ini dapat dipelajari berdasarkan beberapa pokok pikiran berikut :
Pertama (ay. 1–6): Otoritas Ilahi. Yesus memulai dengan kontras antara “pintu kandang domba” dan “pencuri serta perampok.” Secara teologis, ini bukan sekadar kritik moral, tetapi penegasan otoritas ilahi dalam panggilan pelayanan. Calvin menafsirkan bahwa pemimpin yang tidak masuk melalui Kristus adalah mereka yang tidak memiliki mandat ilahi. Domba hanya mengenali suara gembala, ini menunjuk pada doktrin Reformed tentang effectual calling, karya anugerah Allah yang berdaulat di mana Roh Kudus secara efektif membawa orang pilihan kepada Kristus, sehingga mereka pasti merespons dengan iman. Dalam konteks Yohanes, gambaran kandang domba juga memperlihatkan bahwa hubungan antara Gembala dan domba bukan hubungan yang impersonal. Gembala masuk melalui pintu, memanggil domba-domba menurut nama mereka, berjalan di depan, dan domba mengikuti karena mereka mengenal suaranya. D. A. Carson melihat bagian ini dalam konteks konflik Yesus dengan para pemimpin Yahudi dan memahami gambaran tersebut sebagai kontras antara pemimpin yang sah dan mereka yang datang dengan cara yang tidak sah; legitimasi seorang gembala ditentukan bukan oleh klaim dirinya sendiri, tetapi oleh relasinya dengan Sang Pemilik domba dan oleh kesetiaannya kepada-Nya. Dengan demikian, pelayanan tidak memperoleh otoritas terutama dari popularitas, jabatan, kemampuan retorika, atau pengakuan manusia, tetapi dari Kristus yang memanggil dan mengutus. Di dalam kerajaan Allah, suara yang paling berkuasa bukanlah suara manusia yang paling keras, melainkan suara Kristus yang memanggil hati. Sebab pelayanan sejati bukan tentang mencari domba untuk diri sendiri, melainkan membawa domba mengenal suara Sang Gembala.

Kedua (ay. 7–10): Kristus sebagai Pintu Eksklusif Keselamatan. Pernyataan ἐγώ εἰμι ἡ θύρα (egō eimi hē thyra — “Akulah pintu”) merupakan klaim eksklusivitas soteriologis. Dalam kerangka Reformed, ini menegaskan solus Christus secara absolut: tidak ada akses kepada keselamatan di luar Kristus. “Hidup berkelimpahan” (ζωὴν περισσόν) bukan sekadar kesejahteraan eksistensial, melainkan partisipasi dalam hidup perjanjian dengan Allah, yaitu hidup yang dipulihkan dalam kebenaran, kekudusan, dan persekutuan dengan Allah (Ef. 2:1–5). Yesus tidak mengatakan bahwa Ia sekadar menunjukkan pintu, tetapi Ia sendiri adalah Pintu itu. Di sini terdapat kedalaman Kristologi dan soteriologi: jalan keselamatan bukan pertama-tama sebuah sistem, hukum, pengalaman religius, atau pencapaian moral, melainkan pribadi Kristus sendiri. Craig S. Keener menekankan bahwa gambaran “pintu” dalam Yohanes 10 berkaitan dengan akses kepada keselamatan dan kehidupan yang aman di dalam pemeliharaan Sang Gembala. Dengan demikian, masuk melalui Kristus berarti menerima kehidupan yang berasal dari Allah dan berada di bawah pemeliharaan-Nya. “Hidup berkelimpahan” tidak boleh direduksi menjadi janji kemakmuran material; kelimpahan itu terutama menunjuk kepada kepenuhan hidup yang berasal dari relasi dengan Allah melalui Kristus, kehidupan yang dimulai sekarang dan mencapai kepenuhannya dalam kehidupan kekal. Kristus bukan salah satu jalan di antara banyak jalan; Ia adalah Pintu menuju Bapa. Di dunia yang menawarkan banyak jalan tetapi sering kehilangan arah, Kristus membuka satu pintu yang tidak membawa kita kepada kekosongan, melainkan kepada kehidupan.

Ketiga (ay. 11–15): Doktrin Substitutionary Atonement. Pernyataan ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός (egō eimi ho poimēn ho kalos — “Akulah Gembala yang Baik”) mencapai puncaknya dalam frasa “memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.” Kata hyper ὑπέρ (“untuk”/“demi”) menunjuk pada dimensi substitusioner kematian Kristus. Dalam teologi Reformed, ini selaras dengan penebusan partikular (definite atonement): Kristus secara efektif menebus umat pilihan-Nya. Relasi Gembala-domba juga mencerminkan kesatuan kasih antara Bapa dan Anak dalam pactum salutis (perjanjian penebusan kekal). Yang sangat penting ialah bahwa kasih Sang Gembala tidak berhenti pada perasaan belas kasihan; kasih itu bergerak menuju pengorbanan. Ia tidak mempertahankan hidup-Nya untuk diri-Nya sendiri, tetapi menyerahkannya demi domba-domba. Andreas J. Köstenberger menekankan bahwa gambaran Gembala yang Baik dalam Yohanes 10 memperlihatkan perbedaan mendasar antara Yesus dan “orang upahan”: Yesus memiliki komitmen pribadi dan penuh terhadap domba-domba-Nya, sedangkan orang upahan meninggalkan mereka ketika bahaya datang. Pernyataan “Aku mengenal domba-domba-Ku dan Aku dikenal oleh domba-domba-Ku” juga menunjukkan bahwa keselamatan memiliki dimensi relasional yang dalam: Kristus bukan hanya membayar harga bagi umat-Nya, tetapi membawa mereka ke dalam persekutuan pengenalan dengan diri-Nya. Di salib, Gembala menjadi Anak Domba; Ia menyerahkan hidup-Nya supaya domba yang seharusnya binasa memperoleh hidup. Kasih Kristus bukan kasih yang hanya berkata, “Aku mengasihimu,” tetapi kasih yang berkata, “Aku memberikan diri-Ku bagimu.”

Keempat (ay. 16–18): Kedaulatan Kristus. Yesus menyatakan, “Aku memberikan nyawa-Ku… tidak seorang pun mengambilnya dari-Ku.” Ini menegaskan kedaulatan Kristus dalam karya salib. Kematian-Nya bukan tragedi historis, tetapi tindakan ketaatan yang ditetapkan dalam kehendak Bapa. Kebangkitan-Nya mengonfirmasi kemenangan perjanjian Allah atas dosa dan maut. Di sini paradoks Injil mencapai kedalamannya: Kristus tampak sebagai Pribadi yang dikalahkan oleh kematian, tetapi sesungguhnya Ia adalah Tuhan yang dengan sukarela menyerahkan hidup-Nya dan kemudian mengambilnya kembali. Leon Morris menekankan bahwa kematian Yesus dalam Injil Yohanes bukanlah sesuatu yang terjadi di luar kendali-Nya; Ia secara sadar dan sukarela menyerahkan hidup-Nya dalam ketaatan kepada Bapa. Karena itu, salib tidak boleh dibaca semata-mata sebagai tragedi politik atau kekalahan seorang tokoh religius. Salib adalah tindakan kasih yang berdaulat dan sekaligus ketaatan yang sempurna. Perintah Bapa tidak menghancurkan kehendak Anak; Anak dengan sukarela melaksanakan kehendak Bapa. Di sinilah kedaulatan ilahi dan ketaatan Kristus bertemu dalam satu karya keselamatan. Salib terlihat seperti akhir, tetapi di tangan Allah ia menjadi awal; terlihat seperti kekalahan, tetapi menjadi kemenangan; terlihat seperti kematian, tetapi menjadi jalan menuju hidup. Kristus tidak kehilangan nyawa-Nya—Ia menyerahkannya dengan kasih, dan mengambilnya kembali dalam kemenangan.

Kelima (ay. 19–21): Kehadiran dan Perkataan Kristus sebagai Gembala yang Baik menimbulkan perpecahan (schisma) di antara orang-orang Yahudi. Sebagian menolak-Nya dengan tuduhan kerasukan setan, sementara sebagian melihat tanda ilahi dalam karya-Nya. Dalam perspektif Reformed, perbedaan respons ini berkaitan dengan realitas election (pemilihan) dan reprobation (penolakan): mereka yang percaya adalah domba yang “diberikan Bapa” kepada Anak dan digerakkan oleh effectual calling (Yoh. 10:27–29), sedangkan mereka yang menolak tetap berada dalam kebutaan rohani, Allah membiarkan mereka mengeraskan hati (bdk. Rm. 9:18). Francis J. Moloney melihat perpecahan tersebut sebagai respons manusia terhadap identitas dan perkataan Yesus yang menuntut keputusan. Kehadiran Yesus tidak pernah benar-benar netral: perkataan-Nya menyingkapkan apa yang ada di dalam hati manusia. Ada yang mendengar dan mengenal suara-Nya, tetapi ada pula yang menolak dan menafsirkan karya-Nya secara berlawanan. Dalam kerangka teologi Yohanes, persoalannya bukan sekadar kurangnya informasi tentang Yesus, melainkan respons iman terhadap pewahyuan Allah yang hadir dalam diri Anak. Karena itu, Yohanes 10 bukan hanya berbicara tentang siapa Kristus, tetapi juga tentang bagaimana manusia merespons Kristus. Domba mendengar suara Gembala dan mengikuti-Nya; penolakan terhadap suara itu menunjukkan kedalaman problem dosa dan kebutaan manusia terhadap pewahyuan ilahi.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, renungan ini memberikan pesan-pesan firman bagi kita semua:

Pertama, Solus Christus: Yesus adalah Pintu (Yoh. 10:7,9). Yesus menyatakan bahwa Dialah Pintu bagi domba-domba untuk masuk dan memperoleh keselamatan. Di dalam Dia ada jalan menuju kehidupan, perlindungan, dan padang rumput yang memberi kehidupan. Tidak ada keselamatan yang sejati di luar Kristus. Karena itu, jangan mencari keselamatan pada kekuatan diri, jabatan, harta, popularitas, atau manusia. Ketika semua pintu dunia tertutup, Kristus tetap menjadi Pintu yang terbuka menuju kehidupan. Datanglah kepada-Nya dengan iman, sebab di balik pintu itu ada anugerah, pengampunan, penerimaan, dan hidup yang kekal. Jangan hanya mengenal Pintu itu dari kejauhan; masuklah melalui Kristus dan tinggallah di dalam kasih-Nya.

Kedua, Yesus adalah satu-satunya Gembala yang Baik (Yoh. 10:11,14). Ia bukan Gembala yang berdiri jauh dan hanya melihat domba-domba-Nya dari kejauhan. Ia mengenal domba-domba-Nya secara pribadi, memanggil mereka, menuntun mereka, mencari mereka ketika tersesat, menguatkan mereka ketika lemah, dan menjaga mereka ketika berada dalam bahaya. Lebih daripada itu, Sang Gembala yang Baik menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Salib adalah bukti bahwa kasih Kristus bukan sekadar kata-kata, melainkan kasih yang rela membayar harga dengan darah-Nya sendiri. Karena itu, ketika kita merasa sendirian, ingatlah: kita tidak pernah berjalan tanpa Gembala. Ketika langkah kita gemetar, tangan-Nya tetap menuntun. Ketika air mata jatuh tanpa diketahui manusia, Sang Gembala mengenalnya. Dan ketika jalan hidup terasa gelap, suara-Nya tetap memanggil kita untuk mengikuti-Nya.

Ketiga, Keilahian Kristus — Deitas Christi (bdk. Yoh. 10:30). Ketika Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu,” kita melihat kedalaman misteri Kristus: Sang Gembala bukan sekadar utusan Allah, tetapi Anak yang satu dengan Bapa, Allah yang berinkarnasi, yang datang ke dalam dunia untuk memberikan hidup kepada umat-Nya. Ia memiliki otoritas ilahi untuk menyelamatkan, memelihara, dan memberikan hidup kekal. Di dalam Yesus, Allah yang kudus datang mendekat kepada manusia yang berdosa; Allah yang mulia merendahkan diri; Sang Pencipta datang mencari ciptaan-Nya yang tersesat. Karena itu, iman kepada Kristus bukan sekadar kekaguman kepada seorang guru yang baik, tetapi penyembahan kepada Tuhan yang hidup. Kepada-Nyalah kita menyerahkan hidup, sebab tangan yang memegang kita adalah tangan Sang Allah yang berinkarnasi, dan kasih yang mencari kita adalah kasih Allah sendiri. Amin

Editor : Tanya Rompas
MTPJ GMIM