Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cegah Pertemanan Toksik, Dosen dan Mahasiswa UNPI Manado Beri Edukasi Kesehatan Mental di SMAN 2 Pineleng

Ayurahmi Rais • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:02 WIB
Cegah Pertemanan Toksik, Dosen dan Mahasiswa UNPI Manado Beri Edukasi Kesehatan Mental di SMAN 2 Pineleng
Cegah Pertemanan Toksik, Dosen dan Mahasiswa UNPI Manado Beri Edukasi Kesehatan Mental di SMAN 2 Pineleng

 

 

MANADOPOST.ID – Masa remaja merupakan fase transisi yang krusial dan penuh dinamika sosial. Di tengah maraknya interaksi antarsiswa di sekolah, ancaman pertemanan yang tidak sehat atau toxic circle kerap menjadi pemicu gangguan psikologis pada remaja.

 

Merespons fenomena tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Keperawatan Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan mental bagi para siswa.

 

Kegiatan edukatif yang mengusung tema “Anti Toxic Circle: Tips Jaga Kesehatan Mental di Sekolah” ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pineleng, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ns. Yosua Aldrin Kaligis, S.Kep., M.Kep., selaku ketua pengusul, serta melibatkan kontribusi aktif belasan mahasiswa Fakultas Keperawatan UNPI Manado.

 

Mengenali Bahaya Toxic Circle dan Pentingnya Boundaries

 

Dalam pemaparan materi, tim pengabdi menekankan bahwa toxic circle atau lingkaran pertemanan yang merugikan secara emosional dapat berdampak buruk terhadap fokus belajar serta menurunkan rasa percaya diri siswa.

 

Para peserta diajak untuk mengenali berbagai ciri lingkungan pertemanan yang negatif, seperti perilaku merendahkan, perundungan (bullying), manipulasi emosional, hingga paksaan untuk melakukan tindakan yang menyimpang.

 

“Kami ingin siswa tidak sekadar memahami teori, tetapi benar-benar mampu mengenali reaksi tubuh saat merasa tertekan, serta berani membangun batasan pribadi (boundaries) yang tegas,” ujar perwakilan tim pemateri.

 

Melalui simulasi interaktif, para siswa juga dilatih teknik komunikasi asertif untuk melindungi diri. Salah satu contoh yang diperagakan adalah keberanian menyampaikan penolakan secara sopan, seperti: “Aku tidak nyaman kalau diejek seperti itu,” guna menangkal pengaruh buruk tanpa memicu konflik berlebihan.

 

Langkah Praktis Keluar dari Lingkungan Negatif

 

Tidak hanya mengidentifikasi masalah, kegiatan ini juga memberikan solusi dan langkah konkret bagi siswa yang terlanjur berada dalam pertemanan tidak sehat. Beberapa tips yang dibagikan antara lain:

 

Menjaga jarak secara perlahan dan bijak dari lingkungan yang merugikan.

Mengalihkan energi ke hal positif dengan mencari dukungan baru, seperti aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Berani membuka diri dan bercerita kepada pihak tepercaya, seperti guru BK, wali kelas, maupun orang tua.

 

Kegiatan yang didanai secara mandiri oleh tim pengabdi ini dikemas secara interaktif, hangat, dan menyenangkan. Setelah sesi penyampaian materi, antusiasme siswa semakin meningkat melalui kuis interaktif dan pembagian doorprize. Di akhir acara, peserta juga menerima bingkisan camilan sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan mental.

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMAN 2 Pineleng tidak hanya mampu menjaga stabilitas mental diri sendiri, tetapi juga turut membangun lingkungan sekolah yang sehat, suportif, dan saling menghargai.

Editor : Ayurahmi Rais
#Mahasiswa UNPI Edujasi Kesehatan Mental #Pengabdian Masyarakat UNPI #edukasi #UNPI Manado #UNPI