Agenda pertemuan ini mencakup pembahasan isu banjir, ketenagakerjaan, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lingkungan, dan pemanfaatan FABA (Fly Ash dan Bottom Ash).
Salah satu fokus utama dalam rapat adalah persoalan banjir yang melanda area jalan samping timur PLTU Amurang dan pemukiman warga sekitar. Banjir ini disebabkan oleh perubahan arah aliran Sungai Moinit yang kini mengalir ke arah pemukiman dan area PLTU.
“Penanganan banjir menjadi prioritas utama kami. Solusi jangka pendek yang kami bahas adalah pembukaan jalur air dari Politeknik Pelayaran menuju pantai dengan menggunakan excavator milik PT MDT. Namun ini harus melalui izin pemilik lahan, dan kami akan dibantu pemerintah desa serta kecamatan untuk prosesnya,” ujar Anggrita Candrayanto.
Anggrita menambahkan, “Banjir kiriman dari aliran Sungai Moinit juga masuk ke area PLTU dan menyebabkan beberapa peralatan terendam. Ini harus segera ditangani bersama, tidak bisa satu pihak bekerja sendiri.”
Isu ketenagakerjaan juga menjadi perhatian. Perusahaan menyatakan bahwa seluruh proses rekrutmen dan pemutusan hubungan kerja dilakukan sesuai aturan ketenagakerjaan yang berlaku.
PLN NP Services juga menyampaikan arah baru kebijakan CSR perusahaan. “Kami sampaikan bahwa CSR tidak lagi berbentuk bantuan langsung atau charity hingga akhir 2027, tapi diarahkan pada community development. Kami ingin memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Anggrita.
Dalam hal pengelolaan lingkungan, perusahaan menggunakan sistem pemantauan emisi udara secara real-time dan terintegrasi langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
“PLTU Amurang dilengkapi alat CEMS untuk memonitor asap produksi secara real-time. Bila ada gangguan pada alat, kami pastikan perbaikan dilakukan perbaikan peralatan kurang dari tiga hari,” kata Anggrita. Ia menambahkan bahwa semua limbah, baik air maupun udara, telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah, dan alat pengukur tersedia di setiap lokasi.
“Paving block ini akan digunakan untuk penataan jalan boulevard Amurang yang direncanakan sebagai kawasan wisata kuliner. Ini adalah bentuk awal dukungan kami terhadap pengembangan ekonomi dan sosial budaya di daerah,” ungkap Anggrita.
Ia juga menjelaskan kerja sama dengan Lapas Kelas III Amurang yang dijalin pada 26 Maret 2025. “Kami akan memanfaatkan FABA untuk produksi paving block dan batako yang nantinya digunakan dalam program CSR PLTU Amurang,” tambahnya.
Acara ini dihadiri oleh stakeholder dari berbagai instansi, seperti Koordinator PT MKP, PT MDT, Politeknik Pelayaran, Camat Tenga, Kapolsek Tenga, Danramil Tenga, serta Hukum Tua dan Kepala Jaga dari Desa Tawaang, Tawaang Timur, dan Tawaang Barat. Sementara yang mendampingi Anggrita Candrayanto ada Assistant Manager Operasi, Assistant Manager Pemeliharaan, Team Leader Administrasi dan Team Leader Lingkungan dan Kimia.
Anggrita Candrayanto berharap agar kolaborasi seperti ini terus ditingkatkan. “Dengan koordinasi yang kuat, kami yakin semua tantangan bisa dihadapi bersama demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar PLTU Amurang,” tutupnya.(gnr)