MANADOPOST.ID-- Jumlah kejadian bencana di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) terus menunjukkan peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minsel, tercatat 44 kejadian bencana pada tahun 2023 yang berdampak pada 76 jiwa dari 39 kepala keluarga (KK).
Setahun kemudian, pada 2024, jumlahnya naik menjadi 53 kejadian, dengan 295 jiwa terdampak dari 134 KK. Sementara hingga Agustus 2025, angka itu melonjak tajam menjadi 75 kejadian bencana dengan 1.348 jiwa dari 354 KK terdampak.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Minahasa Selatan Franky Donny Wongkar (FDW) mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak abai terhadap potensi bencana di wilayah masing-masing.
“Jangan menunggu tanda bahaya baru bertindak. Mulailah dari hal sederhana, seperti mengenali wilayah rawan, memahami jalur evakuasi, dan memastikan seluruh anggota keluarga tahu apa yang harus dilakukan saat darurat,” tegas FDW.
Bupati menekankan, peningkatan kejadian bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif semua pihak, termasuk TNI/Polri, relawan, dunia usaha, dan masyarakat.
“Sinergi adalah kunci utama keberhasilan penanggulangan bencana. Tidak ada lembaga yang bisa bekerja sendiri. Semua harus bergerak bersama, saling melengkapi, dan saling menopang,” ujarnya.
Selain itu, FDW mengingatkan pentingnya kesiapan sumber daya dan sistem komando yang efektif di lapangan. Setiap personel harus memahami perannya, setiap peralatan siap digunakan, dan setiap prosedur dijalankan dengan cepat dan tepat.
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi publik dan budaya aman bencana di masyarakat.
“Masyarakat yang paham risiko dan tahu cara bertindak adalah benteng pertama keselamatan. Edukasi dan latihan harus menjadi kegiatan rutin, bukan sekadar formalitas,” timpanya.
Lebih lanjut, FDW menekankan bahwa mitigasi bencana tidak hanya berbicara soal logistik dan kebijakan, tetapi juga tentang empati dan semangat kemanusiaan.
“Ketika bencana datang, yang paling dibutuhkan adalah kepedulian antarwarga. Gotong royong adalah kekuatan terbesar masyarakat Minsel yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Bupati menutup arahannya dengan pesan reflektif. “Dalam setiap bencana, yang paling menentukan bukan besarnya ancaman, tetapi kesiapan dan kebersamaan kita. Jika kita siap, kita akan selamat. Jika kita bersatu, kita akan tangguh,” kuncinya.
Dengan tren peningkatan kejadian bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan berkomitmen memperkuat kapasitas BPBD dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun Minsel yang siaga, tangguh, dan tanggap terhadap bencana. (Asyer Rokot)
Editor : Asyer Rokot