MANADOPOST.ID—Jelang berakhirnya Semester I Tahun Anggaran (TA) 2021, pencairan dana desa (Dandes) tahap I
di Minahasa Utara (Minut), tak kunjung tuntas. Hingga Selasa (8/6), baru 107 desa yang cair. Masih ada 17 yang belum.
Padahal, pencairan dibatasi paling cepat Januari dan paling lambat minggu ketiga Juni. Tak ayal, selain terancam tak cair 100 persen. Sejumlah desa disinyalir bisa tak akan produktif dalam menyerap anggaran yang bersumber dari DAU tersebut.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Alpret Pusungulaa tak menampik belum semua desa mencairkan Dandes. “Kalau tidak salah, sudah 107 sampai tadi yang cair,” ujarnya, Selasa (8/6).
Meski begitu, lanjut dia, evaluasi APBDes sudah tuntas dilakukan semua desa. Jadi tinggal menunggu pencairan. Sebab itu menjadi salah satu syarat untuk mencairkan Dandes.
“Kalau yang sudah evaluasi 100 persen. Tinggal menyelesaikan beberapa penyesuaian terhadap program di masing-masing desa baru cair,” terangnya.
Lanjut dia, cepat atau lambatnya pencairan Dandes tergantung perangkat desa masing-masing. Alokasi total Rp103 miliar untuk 125 desa sudah siap dan tinggal ditransfer ke rekening masing-masing.
Di tahun ini, program infrastruktur lebih minim. Karena semua fokus pada penanggulangan pandemi Covid-19. Pemerintah pusat mewajibkan minimal 8 persen Dandes digunakan untuk penanggulangan Covid-19 dan juga alokasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat desa yang membutuhkan. Kuotanya sesuai kesepakatan musyawarah perangkat desa. “Jadi sisanya baru bisa untuk pembangunan infrastruktur. Itu pun harus padat karya,” jelas dia.
Pembinaan digencarkan jelang hingga pasca penyaluran Dandes. Sebab, kewenangan pihaknya dalam melakukan penindakan kepada para perangkat desa yang sengaja menyalahgunakan Dandes terbatas.
“Makanya kami terus mengingat-ingatkan agar penggunaannya sesuai aturan. Bila dilanggar atau tidak sesuai, itu ranahnya Inspektorat hingga penegak hukum,” tegasnya.
Ditambahkan Kepala Seksi Administrasi Pemerintahan Desa Rolly Manopo, jumlah Dandes tahun ini hampir sama dengan 2020 lalu. Tidak ada kenaikan signifikan. Jatah untuk masing-masing desa bervariasi. Desa Wasian menjadi penerima Dandes terbesar di Minut dengan alokasi Rp1,2 miliar. Sementara Dandes terkecil Desa Tinongko dengan alokasi Rp664 juta.
“Kalau tahun lalu, Dandes direfocusing untuk BLT dan penanggulangan Covid-19 di kisaran September-Oktober, jadi banyak program yang direncanakan sebelumnya tidak bisa direalisasikan 100 persen. Tapi kalau tahun ini, sejak awal sudah disampaikan prioritasnya ke penanganan Covid-19,” terangnya. (jen)
Editor : Jendry Dahar