Tapi, dia tak lantas dikenal karena ketampanannya. Joune, justru diperhitungkan karena piawai memimpin pemerintahan di Tanah Tonsea.
Bukan hal mengherankan. Tampuk kekuasaan di Pemkab Minut didapatnya saat kondisi saat itu sedang goyang. Isu korupsi menguak. Sistem birokrasi dan pola pemerintahan banyak disebut orang amburadul. Sehingga banyak yang ragu, JG bersama Wakil Bupati Kevin W Lotulung (KWL) bisa sekejab membalikkan keadaan. Apalagi situasi sedang pandemi Covid-19.
Hal itu seolah kian terbukti. Pemkab diganjar opini Tak Wajar (TW) oleh BPK RI atas LKPD TA 2020. Memang bukan saat dirinya menjabat. Tapi diterima tak lama setelah dirinya dilantik. Bak jatuh tertimpa tangga, sejumlah pejabat diperiksa APH. Laju kencang JG dan KWL seakan tertahan. Beberapa kali rolling pejabat yang dilakukan malah berbuah peringatan dari KASN dan teguran dari Gubernur Sulut.
Namun semua kini berbalik. Berbagai prasangka buruk di awal pemerintahannya kini berubah jadi bukti. 2,5 tahun kepemimpinannya menghasilkan banyak capaian. Yang paling terasa, eksistensi Tanah Tonsea di tingkatan pusat. Pemerintahan pun semua berbasis aturan. Urung melanggar ketentuan hukum.
JG membawa Minut meraih opini WTP di dua tahun usai TW diterima Pemkab Minut. Dia kemudian menjadikan Minut Kabupaten Peduli HAM. Lalu Kabupaten Layak Anak di Tahun 2022. Sebelumnya, pola pengadaan barang dan jasa dirubah semakin modern dan transparan. Alhasil, penghargaan LKPP RI direngkuh. Atas dedikasinya, Joune turut menerima Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI Joko Widodo, bulan lalu.
Rentetan penghargaan itu hanya catatan random atas prestasi yang diraihnya. Di luar itu, Joune dikenal sebagai tokoh yang pintar berdiplomasi. Dia jago lobi. Tak mengherankan, karena memang backgroundnya pengusaha.
Wakil Ketua Bidang Ekonomi PDI Perjuangan Sulut bahkan memberikan contoh di dunia pendidikan. Di usia setengah abab, dia berhasil meraih tiga gelar magister di tiga universitas berbeda. Bukan di kampus abal-abal.
Belakangan, sosoknya makin banyak wara-wiri di kancah pusat. Panggung itu didapatnya seketika menyanggupi penugasan dari APKASI sebagai Kepala Bidang Politik dan Keamanan. Jejaring dibangun. Dia lantas dapat tempat istimewa. Tak jarang bersanding langsung dengan Ketua Umum APKASI Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Sekretaris Jenderal Adnan Purichta Ichsan. Dua bupati yang notabenenya sudah menjabat dua periode.
JG ditunjuk mewakili APKASI untuk RDP dengan DPD RI. Bahasannya soal perizinan di sektor pertambangan, kehutanan, dan lingkungan hidup. Dengan lantang dia memberikan masukan. Joune menunjukkan kelasnya. Dia kemudian kembali diberikan tempat saat Rakernas APKASI. Ketua PSSI Sulut didapuk menyampaikan laporan penutup kegiatan.
Rupanya keaktifannya di APKASI disusupi kepentingan penting. Penatua Remaja di GMIM Immanuel Kaima ingin agar lebih banyak regulasi yang berpihak ke daerah, khususnya di kabupaten. “Agar tidak semua yang dikonsumsi rakyat kita di daerah, justru dinikmati di pusat. Akhirnya kita cuma dapat ampasnya,” ungkapnya saat berdiskusi dengan Manado Post, beberapa waktu lalu.
Joune membeber, beberapa pemikiran telah dituangkannya secara informal kepada para petinggi APKASI maupun pejabat pusat. Dia mengaku sedang menggenjot investasi besar kembali datang ke Tanah Tonsea.
“Komitmen itu kami pegang teguh. Masyarakat Minut harus merasakan kehadiran kami sebagai pemimpin dengan banyak anggaran dari pusat datang yang bisa digunakan untuk membangun daerah,” tuturnya.
Itulah kenapa dia memilih lebih banyak pontang-panting di pusat meski tak sedikit cibiran datang kepadanya karena dinilai kurang memiliki waktu ada di kantor. “Nanti biarlah hasil yang menjawab. Sejauh ini sudah mulai terlihat. Kita akan terus membuktikan nanti,” terangnya.
Di usia ke-52 hari ini. Joune diharapkan bisa terus berlari. Mengejar angan-angan masyarakat Minut untuk semakin maju dan berkembang pesat. Selamat ulang tahun cahaya dari Minawerot. Tuhan memberkati. (jendry dahar)
Editor : Grand Regar