MANADOPOST.ID—Gemuruh tepuk tangan memenuhi Ballroom Ratulangi Lantai 6 The Sentra Hotel, Maumbi, Sabtu malam hingga Minggu dini hari (15–16/11/2025). Malam Grand Final Pemilihan Keke dan Utu Minahasa Utara 2025 menghadirkan tontonan elegan bercampur ketegangan.
Dari panggung ini, dua nama akhirnya keluar sebagai wajah baru kebanggaan Minahasa Utara, Princesa Maria Kamagi dari Dinas Kesehatan dan Ronaldo Tjiabrata dari BKPSDM yang terpilih sebagai Keke Utu Tahun 2025.
Keduanya tampil dominan sejak babak penyisihan, menanjak ke Top 5, Top 3, hingga meraih nilai tertinggi dalam sesi pertanyaan pamungkas yang menuntut kedalaman analisis terhadap isu pariwisata dan pembangunan daerah.
Pertanyaan final Keke diberikan Ni Made Krisna Marsela dari Kemenko Perekonomian RI, sementara pertanyaan untuk Utu diajukan langsung Muhamad Nurdin, Asisten Deputi Perencanaan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf RI yang sekaligus hadir sebagai juri. Kehadiran pejabat pusat ini menjadikan kompetisi tahun ini memiliki bobot penilaian yang lebih kredibel dan objektif.
“Kami berkomitmen menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan siap mempromosikan pesona pariwisata dan budaya Minahasa Utara,” ujar Ronaldo dalam pidato kemenangannya.
Dewan juri menilai seluruh finalis berdasarkan empat variabel utama. Mulai dari kemampuan komunikasi, wawasan budaya, pengetahuan umum, kemampuan presentasi dan advokasi diri.
Kompetisi tahun ini disebut yang paling transparan dan profesional dalam beberapa tahun terakhir karena kembali ditangani secara kolaboratif Dinas Pariwisata Minut, Aliansi Keke Utu Minahasa Utara, dan jajaran pemkab.
Kepala BKPSDM Minut Johanis Katuuk, yang hadir langsung sepanjang malam, mengaku bangga. “Tak menyangka Ronaldo bisa sampai sejauh ini dan akhirnya meraih gelar Utu Minut 2025. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya sambil memberikan salam komando di atas panggung.
Grand Final dibuka Sekretaris Daerah Minut, Novly Wowiling, mewakili Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin W. Lotulung. Menurut Wowiling, ajang Keke Utu bukan sekadar kontes kecantikan dan ketampanan.
“Keke Utu adalah warisan budaya Minahasa Utara. Yang dinilai bukan hanya penampilan fisik, tetapi perpaduan kecerdasan intelektual, emosional, dan karakter. Karena mereka akan berdiri sebagai wajah dan suara Kabupaten Minahasa Utara,” tegas Wowiling.
Ia juga menambahkan, pemilihan ini memiliki nilai strategis dalam mendukung Minut sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN).
“Dengan terpilihnya Princesa dan Ronaldo, saya berharap lahir langkah-langkah konkret untuk memperkuat promosi budaya Tonsea. Mereka bukan hanya simbol, tetapi motor penggerak generasi muda Minut agar lebih percaya diri di panggung nasional,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Minut, Femmy Pangkerego, menegaskan tugas duta pariwisata kini jauh lebih kompleks. Menurutnya, karakter, disiplin, dan kemampuan komunikasi akan menjadi kunci kesuksesan kedua duta muda ini selama setahun ke depan.
“Tantangan pariwisata Minut semakin besar, dari DPN Manado-Likupang hingga event-event nasional yang akan kita tuanrumahi. Karena itu Keke Utu harus hadir sebagai duta yang betul-betul bekerja, membuat kampanye, turun ke lapangan, dan membawa ide segar untuk promosi daerah,” tuturnya.
Ketua Aliansi Keke Utu Minut, Nhina Kindangen, mengaku bangga dengan kualitas peserta tahun ini. Ia juga memastikan, Aliansi Keke Utu akan mendampingi keduanya dalam penguatan kapasitas, public speaking, serta aktivitas advokasi budaya Tonsea.
“Regenerasi berjalan sangat baik. Peserta hadir dengan wawasan kuat, attitude matang, dan kepedulian tinggi terhadap isu kebudayaan. Kami percaya Princesa dan Ronaldo akan menjadi duta yang progresif dan berdampak,” ungkapnya optimis didampingi Sekretaris Fridel Ratag.
Dengan kemenangan ini, Princesa Maria Kamagi dan Ronaldo Tjiabrata resmi mengemban tugas sebagai Duta Pariwisata dan Budaya Minahasa Utara Tahun 2025. Selendang kehormatan disematkan langsung Sekda Novly Wowiling, menandai awal tanggung jawab besar yang akan dipikul selama setahun. (jen)
Editor : Angel Rumeen