MANADOPOST.ID — Kondisi ruas Jalan Insinyur Soekarno yang menghubungkan Manado, Minahasa Utara (Minut), hingga Kota Bitung kian memprihatinkan. Jalan strategis tersebut kini bukan hanya mengalami kerusakan parah, namun juga disebut telah berubah menjadi “jalur maut” akibat seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas, bahkan hingga merenggut nyawa pengguna jalan.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari aktivis sosial, William Luntungan, dari LSM Gerakan Bela Rakyat. Pada Selasa (20/1/2026), William mendatangi Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara untuk menyuarakan tuntutan agar pemerintah provinsi segera bertanggung jawab atas buruknya pengelolaan infrastruktur jalan tersebut.
Menurut William, kerusakan di Jalan Soekarno bukan persoalan baru. Ia menilai, sejak tahun 2018 hingga kini, tidak pernah ada solusi permanen yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sulut.
“Ini bukan sekadar jalan rusak, tapi sudah mengancam nyawa. Polanya selalu sama, kecelakaan terjadi, viral di media sosial, lalu baru ditambal. Setelah itu dibiarkan rusak lagi. Siklus ini terus berulang,” ujar William kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Ia menyebut, di sepanjang ruas Jalan Soekarno terdapat ratusan lubang yang membahayakan pengendara, terutama pada malam hari dan saat hujan. Bahkan, menurutnya, puluhan titik lubang tersebut telah memakan korban luka berat hingga meninggal dunia.
Tak hanya itu, William juga mempertanyakan kualitas pekerjaan tambal sulam yang dilakukan selama ini. Ia menilai perbaikan yang dilakukan terkesan asal-asalan dan tidak berorientasi pada keselamatan jangka panjang.
“Tambalan itu umurnya pendek. Baru beberapa hari sudah rusak lagi. Masyarakat butuh perbaikan permanen, bukan kerja pencitraan supaya terlihat seolah-olah ada aktivitas,” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, William secara terbuka mendesak Gubernur Sulawesi Utara untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kepala Dinas PUPR Sulut.
“Kepala Dinas PUPR Sulut harus dievaluasi. Rakyat terus menjadi korban akibat lemahnya pengelolaan infrastruktur dasar. Ini tidak sejalan dengan semangat pembangunan dan keselamatan publik,” tukasnya.
Selain eksekutif, sorotan tajam juga diarahkan kepada DPRD Sulut. William menilai lembaga legislatif terkesan pasif dan belum menunjukkan empati terhadap penderitaan masyarakat yang terdampak langsung kondisi jalan tersebut.
“Sampai hari ini, hampir tidak pernah kita dengar DPRD turun langsung meninjau lokasi secara serius. Padahal korban sudah banyak. Jangan tunggu korban berikutnya baru bergerak,” katanya.
Kini, masyarakat menanti langkah konkret dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan DPRD Sulut. Apakah Jalan Insinyur Soekarno akan segera diperbaiki secara menyeluruh, ataukah warga masih harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintasi jalur vital tersebut.(Del).
Editor : Ridel Palar