MANADOPOST.ID — Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menerima kunjungan studi delegasi Sri Lanka bersama International Coconut Community (ICC) guna menjajaki kerja sama pengembangan industri kelapa, Rabu (11/2), di Ruang Rapat Sekretaris Daerah.
Pertemuan tersebut membuka peluang ekspor bahan baku hingga produk hilir kelapa dari Minut untuk memenuhi kebutuhan industri kelapa Sri Lanka yang saat ini mengalami kekurangan pasokan.
Sekretaris Daerah Minut, Novly Wowiling, mengatakan Minahasa Utara memiliki potensi besar sebagai daerah sentra kelapa karena komoditas tersebut menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa.
“Kami sudah memaparkan potensi Minahasa Utara. Kelapa adalah basis ekonomi masyarakat. Data Dinas Pertanian menunjukkan ada sekitar 50 sampai 60 ribu hektar lahan produktif kelapa,” ujar Wowiling.
Ia menjelaskan, selain budidaya, Minut juga telah memiliki ekosistem hilirisasi yang berkembang, ditandai dengan keberadaan sejumlah pabrik pengolahan kelapa.
“Produk turunannya sudah cukup banyak, seperti santan bubuk, air kelapa, arang tempurung, hingga produk farmakologi. Artinya kita tidak hanya menjual bahan mentah, tapi sudah masuk tahap industri,” jelasnya.
Menurut Wowiling, kunjungan ini merupakan langkah awal penjajakan kerja sama dagang, di mana Sri Lanka menawarkan kemitraan pasokan berbagai komoditas berbasis kelapa dari Minut.
“Diskusi ini sangat produktif dan akan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke beberapa pabrik. Kami berharap ini bisa berkelanjutan dan memberi manfaat bagi petani serta pelaku industri di Minut,” tambahnya.
Sementara itu, Director General International Coconut Community (ICC), Jelfina Alouw, mengatakan Sri Lanka dan Indonesia sama-sama anggota ICC, dengan perhatian besar terhadap pengembangan sektor kelapa. Namun secara luas lahan, Sri Lanka jauh lebih kecil.
“Lahan kelapa Sri Lanka hanya sekitar 400 ribu hektar, sedangkan Indonesia lebih dari 3,2 juta hektar. Karena itu mereka melihat Indonesia, khususnya Minahasa Utara, sebagai daerah dengan praktik terbaik dan potensi besar,” jelas Alouw.
Delegasi Sri Lanka, lanjutnya, tertarik mengimpor produk setengah jadi seperti coco chip, santan, minyak kelapa, hingga kemungkinan buah kelapa utuh.
Menurutnya, ekspor ini juga bisa melindungi petani saat terjadi kelebihan produksi.
“Kalau ada over supply, ekspor akan membantu menjaga harga di tingkat petani tetap stabil. Jadi ini menguntungkan kedua pihak,” ujarnya.
Ketua Coconut Development Authority Sri Lanka, Shantha Ranathunga, menyampaikan kebutuhan kelapa di negaranya sangat tinggi, terutama untuk konsumsi domestik dan industri.
“Konsumsi dalam negeri kami sangat besar sehingga industri kekurangan bahan baku. Indonesia menjadi prioritas utama untuk memasok bahan mentah maupun produk bernilai tambah,” katanya.
Ia menilai kerja sama ini berpotensi menjadi kemitraan saling menguntungkan antar pemerintah, sekaligus mendorong hilirisasi produk kelapa dari Indonesia.
“Kami ingin lebih banyak produk setengah jadi dan bernilai tambah dari Indonesia. Ini peluang besar bagi masyarakat dan industri di sini,” tandasnya.
Pemkab Minut berharap penjajakan ini menjadi pintu masuk kerja sama konkret yang mampu memperkuat sektor perkebunan, meningkatkan nilai tambah industri, serta mendongkrak kesejahteraan petani kelapa di daerah. (Del)
Editor : Ridel Palar