MANADOPOST.ID—Menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara menjalin koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara.
Koordinasi tersebut ditandai dengan kunjungan tim BMKG ke Kantor BPBD Minut pada Selasa (14/4), sebagai bagian dari langkah awal sosialisasi dan mitigasi menghadapi dampak musim kemarau.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sulut, Muhammad Candra Buana, menjelaskan bahwa sinergi antara BMKG dan BPBD sangat penting dalam menyampaikan informasi iklim kepada masyarakat.
“BPBD menjadi perpanjangan tangan BMKG di daerah dalam menyampaikan informasi serta menindaklanjuti imbauan yang kami keluarkan, agar dampak kemarau bisa diminimalisir,” ujarnya, Kamis (16/4).
Berdasarkan analisis BMKG, wilayah Kabupaten Minahasa Utara diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Juni dasarian ketiga. Bahkan, ada potensi kemarau datang lebih awal dengan karakter curah hujan di bawah normal.
“Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi antara tiga hingga lima bulan, tergantung kondisi masing-masing wilayah,” jelasnya.
Mengantisipasi hal tersebut, masyarakat diimbau mulai melakukan langkah sederhana sejak dini, seperti menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air hujan.
“Sekarang masih ada hujan, jadi sebaiknya masyarakat mulai menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci atau menyiram tanaman. Ini langkah kecil tapi sangat membantu saat kemarau nanti,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, guna mencegah potensi kebakaran saat musim kering.
Sementara itu, BPBD Minahasa Utara memastikan kesiapan dalam menghadapi potensi bencana kekeringan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Utara, Theodore Lumingkewas melalui Sekretaris BPBD, Gerald Dotulong, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai aspek, mulai dari peralatan hingga koordinasi lintas sektor.
“Kami siap dari sisi sumber daya, peralatan, serta koordinasi dengan TNI, Polri, dan OPD terkait. Penanganan kemarau ini tidak bisa sendiri, perlu kolaborasi semua pihak,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi.
“BPBD bukan superhero. Semua harus terlibat, mulai dari pemerintah desa hingga masyarakat, agar dampak kemarau bisa kita tekan bersama,” pungkasnya. (Del)
Editor : Ridel Palar