MANADOPOST.ID--Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) memperpanjang status tanggap darurat bencana menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hingga kini masih terjadi di sejumlah wilayah.
Bupati Minahasa Utara Joune Ganda mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah pemerintah melakukan evaluasi terhadap kondisi karhutla selama masa tanggap darurat sebelumnya.
Menurut Joune, titik api justru masih bermunculan dengan intensitas yang cukup tinggi. Bahkan, dalam sehari jumlah titik api yang terpantau bisa mencapai lebih dari 10 titik.
“Setelah kita mengevaluasi siaga darurat bencana selama 14 hari, ternyata titik-titik atau spot-spot api yang muncul itu makin banyak. Satu hari bisa lebih dari 10,” ujar Joune, Rabu (30/9/2026) usai mengikuti Rakor dengan Gubernur Yulius Stevanus di Wisman Negara Gubernuran Bumi Beringin, Manado.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Minut kemudian menggelar rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan seluruh stakeholder terkait untuk meningkatkan status penanganan dari siaga darurat menjadi tanggap darurat bencana.
Joune menjelaskan, keputusan tersebut tidak diambil sepihak. Pemerintah turut mempertimbangkan masukan dan kondisi lapangan, termasuk informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi cuaca hingga akhir tahun.
“BMKG termasuk di dalamnya, bagaimana prediksi dari BMKG sampai akhir tahun, mungkin awal tahun depan kita belum ada hujan. Walaupun tentu kita akan berdoa agar hujan ini juga bisa cepat turun,” katanya.
Status tanggap darurat kemudian ditetapkan selama 14 hari. Namun, karena intensitas kebakaran belum menunjukkan penurunan signifikan, masa tanggap darurat kembali diperpanjang selama 14 hari ke depan.
Joune mengaku salah satu wilayah yang kini menjadi perhatian serius pemerintah adalah kawasan kaki Gunung Klabat.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Di sekitar kawasan kaki gunung telah terdapat sejumlah permukiman warga sehingga pemerintah berupaya mencegah api merembet dan mengancam rumah penduduk.
“Saya terus memantau bagaimana kejadian-kejadian kebakaran yang sekarang ini sudah mulai atau sudah sedang terjadi di wilayah yang sangat sensitif. Yang selalu saya takutkan, yang saya khawatirkan adalah kaki Gunung Klabat,” ungkapnya.
Pemkab Minut bersama TNI, Polri, BNPB dan stakeholder lainnya terus melakukan langkah mitigasi agar kobaran api tidak sampai masuk ke kawasan permukiman.
Joune menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penanganan karhutla. Namun, ia mengakui kemampuan pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan untuk menjangkau dan memadamkan api yang berada di kawasan hutan dan medan yang sulit.
“Memang kami harus akui kami belum mampu untuk memadamkan api yang ada di kaki gunung atau yang sudah masuk area hutan karena memang peralatan dan kemampuan tenaga kita belum mampu,” ujarnya.
Karena itu, Pemkab Minut telah menyampaikan surat kepada sejumlah instansi terkait, termasuk BNPB di tingkat pusat, agar kondisi karhutla di Minut mendapat perhatian dan dukungan lebih lanjut.
“Kami berharap bahwa ini tidak sampai meluas. Sudah bisa dilakukan langkah-langkah yang bisa membantu kami. Kalau dari pusat mereka memiliki resources yang lebih mumpuni dan lebih banyak, sehingga ini bisa lebih teredam,” kata Joune.
Di tengah penanganan yang terus dilakukan, kondisi di lapangan masih dinamis. Sejumlah titik api yang sebelumnya membesar mulai berkurang, namun titik baru kembali muncul akibat kondisi angin yang cukup kencang.
Joune menjelaskan, cuaca panas dan vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar. Bahkan, api dapat terbawa angin dan membakar bagian atas pohon meskipun vegetasi di bawahnya belum terbakar.
“Angin membawa api ke atas pohon. Ada daun atau ranting di pohon yang sudah kering, terbakar di situ. Jadi bisa dibayangkan, di bawah belum terbakar, di pohonnya atas sudah terbakar,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Joune kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.
Ia meminta masyarakat ikut membantu pemerintah mencegah munculnya titik api baru, terutama di tengah kondisi cuaca panas, kering dan angin yang berpotensi mempercepat penyebaran api.
“Saya sudah beberapa kali memberikan imbauan agar jangan gampang membakar lahan, perkebunan atau pekarangan yang nyambung dengan perkebunan. Pikir mungkin cuma bakar sampah, tapi ternyata karena dibawa angin merembet sampai ke hutan,” tegasnya.
Joune memastikan perkembangan karhutla terus dipantau dan instruksi penanganan akan terus diberikan kepada seluruh stakeholder terkait.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan serta mendukung upaya pemerintah dalam mencegah kebakaran semakin meluas.
“Semoga kita semua bisa bersama-sama menjaga wilayah kita dan mudah-mudahan hujan segera turun,” pungkasnya. (Del)
Editor : Ridel Palar