Karhutla Minut Merembet ke Hutan Lindung Klabat, Joune Ganda Minta Penanganan Diperkuat

Ridel Palar • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:25 WIB
Tinjau-Bupati Minahasa Utara Joune Ganda saat menunjau langsung Posko Operasi Padam Karhutla Tim Pemburu Api di kompleks Kantor Bupati Minut, Kamis (1/10/2026).
Tinjau-Bupati Minahasa Utara Joune Ganda saat menunjau langsung Posko Operasi Padam Karhutla Tim Pemburu Api di kompleks Kantor Bupati Minut, Kamis (1/10/2026).

 

 

MANADOPOST.ID--Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) belum sepenuhnya terkendali. Api yang sebelumnya menjadi ancaman bagi permukiman kini terus merembet ke arah kawasan hutan lindung Gunung Klabat.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Bupati Minahasa Utara Joune Ganda saat melakukan pengecekan langsung Posko Operasi Padam Karhutla Tim Pemburu Api di kompleks Kantor Bupati Minut, Kamis (1/10/2026).

 

Posko lapangan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Manggala Agni, TNI-Polri, Damkar, BPBD, relawan hingga kelompok masyarakat terlatih.

 

Joune mengatakan, sebelum turun langsung ke posko, dirinya secara rutin memantau perkembangan karhutla melalui laporan tertulis, foto dan video dari perangkat daerah serta petugas di lapangan.

 

“Saya terus mendapatkan informasi setiap hari. Bahkan setiap dua-tiga jam di dalam grup-grup itu saya pantau terus, kemudian memberikan instruksi-instruksi,” ujar Joune.

 

Namun, peninjauan langsung dilakukan untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai kondisi di lapangan, termasuk strategi mitigasi yang harus segera dilakukan.

 

Menurut Joune, persoalan kini bukan hanya bagaimana mencegah api mendekati permukiman, tetapi juga mengantisipasi pergerakan api menuju kawasan hutan lindung Gunung Klabat.

 

“Titik api ini cukup banyak dan yang dikhawatirkan sekarang ini setelah kita melindungi titik api untuk tidak menyebar ke arah permukiman, sekarang titik api ini sudah mengarah ke daerah yang lebih kita khawatirkan juga, yaitu daerah hutan lindung,” katanya.

 

Joune menyebut terdapat sejumlah risiko apabila api terus bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi.

Selain medan yang semakin curam sehingga menyulitkan proses pemadaman, kawasan tersebut juga memiliki banyak material kering berupa sisa kayu dan vegetasi yang dapat menjadi bahan bakar dan memperbesar kobaran api.

 

“Kalau makin ke atas, penanganannya akan jauh lebih sulit. Karena kalau lebih tinggi, wilayahnya lebih curam,” jelasnya.

 

Ia juga mendapat informasi dari tim di lapangan mengenai kondisi bentang alam di kawasan tersebut yang berpotensi membuat api muncul di titik berbeda dan menyulitkan upaya pengendalian.

 

Situasi ini membuat Pemkab Minut menyiapkan laporan terbaru mengenai perkembangan dan potensi perluasan karhutla untuk diteruskan kepada instansi penanggulangan bencana di tingkat provinsi hingga pusat.

 

Joune berharap dukungan dari pemerintah pusat dapat diperkuat sebelum kebakaran semakin meluas.

 

“Kami berharap bahwa dengan kondisi terbaru ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah di provinsi bisa meneruskan ke BNPB agar segera melakukan langkah-langkah antisipasi sebelum nanti ini makin membesar,” ungkapnya.

 

Dampak lain yang turut menjadi perhatian adalah potensi gangguan asap terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Sam Ratulangi Manado apabila kebakaran terus meluas dan menghasilkan asap pekat.

 

“Kalau makin membesar bisa memberikan dampak pada Bandara Sam Ratulangi. Bisa ditutup Bandara Sam Ratulangi karena asap yang begitu tebal yang mengganggu penerbangan,” kata Joune.

 

Ia juga menyoroti kondisi kualitas udara di wilayah Minut. Joune mengaku rutin memantau kualitas udara melalui aplikasi dan biasanya indikator kualitas udara di daerah tersebut berada pada kategori baik.

Namun, kondisi kali ini berbeda karena indikator menunjukkan warna kuning.

 

“Biasanya saya selalu monitor di aplikasi kualitas udara di Minahasa Utara itu selalu hijau. Kali ini kuning. Berarti kan sudah ada dampak di lapisan udara di wilayah kita,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Tim Operasi Lapangan Tim Pemburu Api Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sulawesi Seksi Wilayah III Manado, Kementerian Kehutanan, Silvri Christian Sengkey, membenarkan bahwa api masih bergerak menuju kawasan hutan lindung Gunung Klabat.

 

Menurut Silvri, tim saat ini berupaya mengejar bagian terdepan atau “kepala api” yang bergerak paling jauh menuju kawasan hutan.

 

“Apinya itu sudah semakin menjauh mengarah ke gunung, masuk ke kawasan hutan lindung. Jadi kami tim ini berusaha memburu kepala api yang paling terjauh agar supaya api ini bisa dinetralisir,” jelas Silvri.

 

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap karhutla telah selesai hanya karena api yang terlihat dari kawasan permukiman mulai berkurang.

 

Menurutnya, api masih dapat merambat perlahan di lantai hutan dan bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi.

 

“Memang pelan tapi pasti. Itu yang kenapa tim Manggala Agni, relawan dan tim dari TNI dan juga BPBD terus mengejar yang paling terjauh,” katanya.

 

Silvri menjelaskan, strategi mengejar kepala api dilakukan agar penyebaran tidak semakin sulit dikendalikan ketika api sudah mendekati atau melewati puncak Gunung Klabat.

 

“Kalau api tidak dipotong di depannya, tidak dikalahkan kepala apinya, nanti api ini akan lebih sulit kalau sudah mengarah ke puncak gunung,” ujarnya.

 

Ia juga menepis anggapan bahwa api sudah sepenuhnya padam hanya berdasarkan berkurangnya titik api yang terlihat.

 

Menurutnya, selama masih terdapat indikasi api di kawasan hutan, tim tetap menganggap kebakaran belum benar-benar selesai.

 

“Ketika api dikatakan tidak ada, kecuali api itu sudah dikatakan dingin seperti es batu. Itu yang baru dikatakan clear. Dan juga langit sudah biru kembali,” tegasnya.

 

Silvri mengapresiasi dukungan Pemkab Minut terhadap operasi di lapangan. Dukungan tersebut antara lain berupa transportasi, makanan serta peralatan yang dibutuhkan tim.

 

Ia berharap dukungan tersebut dapat terus berlanjut mengingat operasi pemadaman masih membutuhkan kerja bersama seluruh unsur.

 

“Terima kasih atas dukungan, baik dari segi transportasi, makanan dan juga peralatan-peralatan yang kami butuhkan. Ke depannya kami membutuhkan lagi support dan dukungan,” pungkasnya. (Del)

 

 

Editor : Ridel Palar
Karhutla Minut Joune Ganda Gunung Klabat