Sejumlah pakar sejarah dan antropologi menduga, akar leluhur orang Minahasa memiliki hubungan erat dengan negeri Tiongkok, khususnya dari Dinasti Han.
Menurut sejumlah penelitian, leluhur orang Minahasa diyakini berasal dari kelompok penguasa Dinasti Han yang bermigrasi dan menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Minahasa. Jejak ini terlihat dari beberapa temuan penting, di antaranya adalah kemiripan bunyi bahasa ritual Minahasa dengan dialek kuno Han, serta pola gerakan pada tarian tradisional yang menyerupai budaya dari Tiongkok.
"Minahasa tidak terpisahkan dari sejarah perdagangan jalur rempah yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Tiongkok. Ini memungkinkan terjadinya pertukaran budaya yang intens, termasuk dalam aspek fisik melalui perkawinan lintas etnis," ujar sejarawan lokal, Dr. Samuel Tangkere.
Di masa lalu, Tiongkok merupakan pusat perdagangan utama di Asia. Jalur perdagangan yang melibatkan Minahasa sering kali menjadikan wilayah ini persinggahan bagi para pedagang. Barang-barang seperti gading gajah dan rempah-rempah menjadi komoditas utama yang dipertukarkan. Dampak dari hubungan ini tidak hanya terlihat dari aspek ekonomi, tetapi juga kebudayaan dan genetik.
Bukti lain yang mendukung hipotesis ini adalah artefak dan keramik Tiongkok yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Minahasa. Keramik-keramik tersebut berasal dari era Dinasti Ming dan Han, menunjukkan intensitas hubungan antara kedua wilayah.
Antropolog Universitas Sam Ratulangi, Dr. Maria Lengkong, menambahkan bahwa faktor sejarah ini menciptakan perpaduan unik antara budaya Minahasa dan Tiongkok. "Minahasa merupakan contoh nyata bagaimana jalur perdagangan maritim tidak hanya membawa barang, tetapi juga ide dan identitas yang membentuk karakter masyarakatnya," jelasnya.
Hingga kini, masyarakat Minahasa tetap mempertahankan warisan budayanya yang kaya. Tradisi seperti musik kolintang dan tari kabasaran menyimpan jejak-jejak pengaruh Tiongkok yang masih bisa dirasakan, baik dari segi ritme maupun gerakan.(*)