Batu besar yang dikenal dengan nama Watu Pinawetengan, atau "Batu Pembagian", dipercaya sebagai tempat di mana para leluhur Minahasa berkumpul untuk menyepakati perdamaian, pembagian wilayah, dan tata cara hidup bersama.
Batu ini memegang peranan penting dalam sejarah Minahasa, yang hingga kini dihormati oleh masyarakat setempat.
Watu Pinawetengan terletak di Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, dan diperkirakan sudah ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.
Batu ini memiliki ukuran besar dan terletak di atas tanah yang datar, yang memungkinkan para leluhur Minahasa untuk duduk dan bermusyawarah.
Selain itu, batu ini juga dikenal sebagai simbol pembagian wilayah antara sembilan sub-etnis atau suku bangsa di Minahasa, yaitu Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tolour/Tondano, Tonsawang/Tombatu, Pasan, Ponosakan, Bantik, dan Bolaang Mongondow.
Watu Pinawetengan kini menjadi situs bersejarah yang dilestarikan dan dihormati oleh masyarakat Minahasa.
Tempat ini sering dikunjungi oleh warga setempat untuk melakukan ritual adat, memperingati sejarah leluhur mereka, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dan perdamaian yang telah ada sejak dahulu kala.
Watu Pinawetengan tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga simbol penting dari persatuan dan gotong-royong yang masih berlaku dalam kehidupan masyarakat Minahasa modern.
Dengan sejarah yang panjang dan kaya, Watu Pinawetengan tetap menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah Minahasa, melambangkan kebersamaan yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat dan menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian, keharmonisan, dan persatuan antar suku yang ada di Minahasa. (ryn)
Editor : Tanya Rompas