Sejumlah pihak mengklaim bahwa banjir terjadi akibat pendangkalan danau dan DAS Tondano. "Banjir yang sampai berbulan-bulan baru sekarang terjadi selama kami tinggal di pinggir air sini. Ini karena terjadi pendangkalan di Danau dan sungai," keluh Yesi warga Roong Tondano yang terdampak banjir.
Menurutnya, kondisi pada 30 tahun yang lalu Danau Tondano kedalamannya mencapai 30 meter. "Kalau sekrang bisa diukur mungkin tinggal 13 meter atau bisa saja tinggal 10 meter," tambahnya lagi.
Terpisah, dalam wawancaranya bersama pakar lingkungan hidup dari Universitas Negeri Manado (UNIMA) Dr Mercy Rampengan, dirinya memberikan analisis mendalam terkait penyebab utama pendangkalan Danau Tondano serta solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah ini secara berkelanjutan.
Menurutnya, pendangkalan danau bukan hanya masalah lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman krisis sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dr Rampengan mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi Danau Tondano, di antaranya Erosi dan Sedimentasi dari Deforestasi di Catchment Area.
"Penebangan liar dan konversi lahan menjadi area pertanian menyebabkan erosi yang besar. Material tanah yang terbawa aliran sungai akhirnya mengendap di dasar danau, mempercepat proses pendangkalan," sebutnya.
Kemudian, praktik Pertanian yang Tidak Berkelanjutan. Pengolahan tanah yang tidak memperhatikan kesuburan dan kontur tanah, serta minimnya vegetasi penahan, memperburuk erosi. Hal ini menyebabkan sedimen cepat terbawa air ke danau. Kemudian dikatakannya, ada pembangunan infrastruktur tanpa kajian lingkungan.
"Pembangunan yang tidak mengutamakan daya dukung lingkungan, seperti pemukiman dan infrastruktur, mempercepat limpasan air dan memperburuk sedimentasi," jelasnya lagi.
Lanjut dia, olpengaruh lainnya adalah aktivitas manusia.
"Penambangan pasir ilegal dan pembuangan sampah domestik yang tidak terkelola menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada kualitas air danau. Limbah yang tidak terkontrol menyebabkan eutrofikasi, yang mengarah pada pertumbuhan eceng gondok yang berlebihan," jelasnya.
Lanjut, adanya perubahan iklim. Curah hujan yang semakin tidak menentu membuat danau kesulitan menampung air dalam jumlah besar, memperburuk risiko banjir. Lemahnya Upaya Konservasi dan Restorasi
Upaya konservasi yang tidak berkelanjutan dan kurang terintegrasi, seperti minimnya reboisasi serta pengelolaan limbah yang buruk, menjadi faktor pemicu semakin cepatnya proses pendangkalan.
Dampak Pendangkalan terhadap Masyarakat
Pendangkalan Danau Tondano kata dia memiliki dampak yang tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar:
Untuk itu, Ia menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan Danau Tondano. Masyarakat, sebagai pihak yang langsung merasakan dampak, harus diberdayakan sebagai pengelola utama danau. Beberapa langkah yang perlu diambil untuk memulihkan danau ini antara lain.
"Reboisasi daerah tangkapan air secara berkelanjutan. Pengelolaan limbah berbasis masyarakat. Penegakan regulasi tata ruang yang lebih ketat. Pembersihan tumbuhan air seperti eceng gondok secara rutin. Kerja sama lintas sektor antara pemerintah, akademisi, LSM, dan masyarakat. Pentingnya Kajian Risiko dalam Perencanaan Pembangunan. Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan daerah harus memperhatikan kajian risiko bencana, serta rencana penanggulangan banjir dan longsor. Tanpa acuan yang jelas, bencana seperti yang sudah terjadi bisa berulang dan bahkan semakin buruk di masa depan," tukasnya.
Penanganan turut dilakukan ekstra oleh Bupati Minahasa Robby Dondokambey beserta instansinya dan juga PLN yang mengelola PLTA di Pintu Air Tonsea Lama. Sedimentasi Danau Tondano kini menjadi perhatian semua pihak.(ler)
Editor : Lerby Fabio Tamuntuan