Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Peluncuran Buku Sejarah Nasional Hapus Stigma Permesta, Willy Rawung: Saatnya Rehabilitasi Total dan Penghargaan Tokoh

Tommy Waworundeng • Selasa, 5 Mei 2026 | 21:15 WIB
Willy Rawung
Willy Rawung

 

MANADOPOST.ID — Ketua Perhimpunan Tou Minahasa, Willy Rawung, menyatakan bahwa peluncuran buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global membawa konsekuensi besar bagi cara pandang bangsa terhadap gerakan Permesta.

Menurut Rawung, dengan diresmikannya buku tersebut, stigma lama yang selama ini melekat pada Permesta sebagai “pemberontak” secara de facto telah terhapus.

“Ketika buku ini diluncurkan, itu berarti stigma Permesta sebagai pemberontak resmi terhapus. Ini bukan sekadar simbolik, tapi harus diikuti dengan langkah nyata,” tegas Rawung.

Ia menilai, konsekuensi langsung dari perubahan perspektif sejarah ini adalah perlunya revisi menyeluruh terhadap materi pengajaran, baik di lembaga pendidikan sipil maupun militer. Narasi sejarah, kata dia, harus disesuaikan dengan sudut pandang baru yang lebih adil dan proporsional.

Selain itu, Rawung juga menyoroti pentingnya keberanian pemerintah dan birokrasi di Sulawesi Utara untuk terbuka dalam membahas dokumen penting seperti Piagam Permesta, termasuk peran Sumitro Djojohadikusumo yang disebut ikut merancangnya.

Ia berharap momentum ini dimanfaatkan oleh organisasi MKB-Permesta untuk menggelar seminar atau bedah buku, khususnya pada jilid VIII yang memuat pembahasan mendalam tentang Permesta.

“Buku ini sekaligus membuka jalan bagi perjuangan MKB-Permesta dalam mengusulkan tokoh-tokoh Permesta sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rawung menegaskan bahwa masih ada sejumlah tokoh penting yang layak diperjuangkan mendapatkan gelar tersebut, di antaranya Alexander Kawilarang, Joop Warouw, dan Ventje Sumual.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk mulai mengabadikan nama-nama tokoh tersebut sebagai nama jalan serta membangun monumen sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam sejarah bangsa.

“Sudah waktunya kita memberi tempat yang layak bagi para tokoh ini dalam ruang publik kita. Ini bagian dari rekonsiliasi sejarah,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Rawung menyampaikan apresiasi kepada MKB-Permesta atas konsistensinya memperjuangkan pelurusan sejarah.

“Bravo MKB-Permesta,” pungkasnya. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Willy Rawung #Permesta bukan pemberontakan