Dari Malam Bakudapa Kawanua Sedunia Pulang Kampung, Kawanua dan Pemerintah Mapalus Bangun Kampung

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:59 WIB
Ketua Umum Kawanua Sedunia  Lucy Rumantir-Palit (kelima dari kanan), Ketua Panitia KSD Pulang Kampung Tresye Lumanaw (pertama dari kiri), foto bersama para petinggi di Sulut
Ketua Umum Kawanua Sedunia Lucy Rumantir-Palit (kelima dari kanan), Ketua Panitia KSD Pulang Kampung Tresye Lumanaw (pertama dari kiri), foto bersama para petinggi di Sulut

 

MANADOPOST.ID-Minggu 9/8 tadi malam di Graha Gubernuran Bumi Beringin, Manado, terasa berbeda.
Bukan hanya karena lebih dari 500 orang berkumpul dalam satu tempat. Bukan pula semata karena Kawanua datang dari berbagai daerah dan belahan dunia.


Ketua Umum Kawanua Sedunia, Lucy Rumantir Palit, saat membawakan sambutan, mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya Minahasa.

Pesannya sederhana, tetapi dalam. Jangan sampai kemajuan zaman membuat generasi muda melupakan akar budayanya.
Sebab, sejauh apa pun seorang Kawanua pergi, ada identitas yang selalu melekat dalam dirinya.

Dari Malam Bakudapa Kawanua Sedunia Pulang Kampung, Kawanua dan Pemerintah Mapalus Bangun Kampung Halaman
Dari Malam Bakudapa Kawanua Sedunia Pulang Kampung, Kawanua dan Pemerintah Mapalus Bangun Kampung Halaman

 

Lucy juga mengingatkan Kawanua yang berada di luar negeri maupun di luar daerah agar tidak melupakan Sulawesi Utara.

Bukan hanya mengingatnya sebagai tempat kelahiran, tetapi juga menjadikannya sebagai daerah yang layak diperjuangkan dan dibangun bersama.
Sebab, pulang kampung seharusnya bukan hanya tentang kembali melihat tempat kita berasal.

Pulang juga berarti bertanya: apa yang bisa kita berikan untuk tanah yang pernah membesarkan kita?

Pulang untuk Memberi
Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam pesan Ketua Panitia Kawanua Sedunia Pulang Kampung, Tresye Lumanauw.

Bagi Tresye pulang kampung tidak berhenti pada pertemuan, nostalgia, foto bersama, atau menikmati keindahan daerah.
Ada tanggung jawab sosial yang ikut dibawa pulang.

Karena itu, rangkaian kegiatan juga diisi dengan aksi berbagi melalui kegiatan di panti asuhan.
Di sana, makna pulang menemukan bentuk yang lebih nyata.

Kawanua datang bukan hanya untuk menerima kenangan, tetapi juga meninggalkan kebaikan.
Dan ketika malam seni dan budaya digelar, ada pesan lain yang ikut disampaikan: berbagi tidak harus membuat seseorang kehilangan identitas.
Justru melalui budaya, identitas itu kembali ditegaskan.

Tarian Minahasa ditampilkan. Musik tradisional dimainkan. Kolintang kembali berbicara melalui nada-nadanya.
Semuanya seperti mengatakan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus saling mengalahkan.
Keduanya dapat berjalan bersama.

Sementara itu juga  Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay dalam sambutannya, mengatakan kehadiran Kawanua dari luar negeri dan luar daerah membawa harapan tersendiri.

Ia memberikan apresiasi kepada mereka yang, meski telah lama hidup jauh dari Sulawesi Utara, masih memiliki kepedulian terhadap tanah asalnya.
Di sinilah pemerintah dan Kawanua Sedunia diharapkan bertemu dalam satu semangat: kolaborasi atau mapalus. 

Bukan lagi memisahkan mereka yang tinggal di dalam daerah dan mereka yang berada di luar daerah.

Sebab pembangunan Sulawesi Utara adalah tanggung jawab bersama.

"Kita yang ada di dalam maupun di luar, sama-sama berkolaborasi untuk Sulawesi Utara yang lebih maju, sejahtera dan berkelanjutan," pesan Victor.

Kalimat itu seakan menjadi benang merah dari seluruh rangkaian kegiatan.
Bahwa jarak geografis tidak harus menjadi jarak emosional.

Seorang Kawanua bisa tinggal di Jakarta, Surabaya, Amerika, Eropa, Australia, Jepang, atau berbagai belahan dunia lainnya.
Namun, kecintaan terhadap tanah leluhur tetap bisa dijaga.
Bahkan lebih jauh lagi, kecintaan itu dapat diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata.
Ketika Budaya Menjadi Jalan Pulang

Minggu itu, Graha Gubernuran Bumi Beringin bukan hanya menjadi tempat berkumpul.
Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.
Tari Pisok-Pisok, Kure, Maengket dan Katrili mengingatkan tentang akar budaya.

Musik bambu dan kolintang menghidupkan kembali suara tradisi. (*)

 

 

 

 

 

Editor : Tommy Waworundeng
Pulang Kampung kawanua