Intip Keseruan Wabup Vasung dan Kisah Panjang 'Songara' Kacang Kawangkoan

Lerby Fabio Tamuntuan • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:48 WIB
MENARIK: Aksi Wabup Vanda Sarundajang saat
MENARIK: Aksi Wabup Vanda Sarundajang saat 'songara' kacang Kawangkoan, Selasa (18/8/2026).

MANADOPOST.ID--Deru semangat kemerdekaan berpadu dengan aroma kacang tanah sangrai dalam Pawai Pembangunan Kawangkoan Raya. Di tengah riuh ribuan warga yang memadati panggung kehormatan, ada satu pemandangan yang mencuri perhatian.

Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang SS MAP (Vasung) tak sekadar menyaksikan parade. Ia justru turun langsung ke tengah pelaku UMKM dan memegang kayu pengaduk, menyangrai kacang tanah khas Kelurahan Kinali Satu menggunakan cara tradisional Songara.

Di atas belanga besar yang dipanaskan dengan tungku kayu bakar, butiran kacang tanah diaduk perlahan di dalam pasir gunung panas. Gerakan tangan Wabup Vanda mengikuti ritme tradisional yang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi agar seluruh kacang matang merata tanpa hangus.

Aksi spontan Wakil Bupati yang akrab disapa VaSung itu sontak menjadi salah satu magnet perhatian dalam pawai yang melibatkan tiga wilayah, yakni Kecamatan Kawangkoan, Kawangkoan Barat, dan Kawangkoan Utara.

Dengan busana kasual namun tetap elegan, Vanda menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus hadir dalam bentuk pidato dan seremoni. Sesekali, pembangunan justru terasa lebih dekat ketika seorang pemimpin ikut menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.

“Kacang songara asal Kinali Satu bukan sekadar komoditas kuliner, melainkan identitas, kebanggaan, dan urat nadi perekonomian masyarakat Kawangkoan Raya yang telah mendunia,” ujar Wabup Vanda di sela-sela aksinya sembari melemparkan senyum kepada para pelaku UMKM setempat.

Kehadiran Vasung di tengah proses produksi tradisional tersebut mendapat sambutan hangat masyarakat. Bagi pelaku UMKM, momen itu menjadi gambaran dukungan pemerintah terhadap produk lokal sekaligus upaya menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Di balik aroma gurih dan teksturnya yang renyah, Songara kacang tanah menyimpan cerita panjang tentang ketekunan masyarakat Kawangkoan.

Metode tradisional menggunakan pasir gunung panas bukan sekadar teknik memasak. Prosesnya membutuhkan perhatian penuh. Kacang harus terus diaduk agar panas menyebar secara merata dan tidak membuat sebagian hasil sangrai gosong. Di titik inilah Songara menemukan makna yang lebih dalam.

Bagi masyarakat Minahasa, ketekunan dalam mengaduk kacang hingga matang menjadi gambaran tentang etos kerja, kesabaran dan konsistensi. Sebuah produk bernilai tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dan ketelitian.

Begitu pula industri kacang Songara di Kinali Satu. Di belakang satu bungkus kacang yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak tangan.

Ada petani yang menanam dan memanen kacang, pengumpul yang menghimpun hasil produksi, penyangrai yang mempertahankan metode tradisional, hingga pedagang yang memasarkannya kepada masyarakat.

Rantai tersebut mencerminkan semangat Mapalus, filosofi gotong royong yang telah lama menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat Minahasa.


Kacang Songara Kawangkoan juga telah melewati batas sebagai sekadar makanan ringan. Ia hadir dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat—di meja tamu, pertemuan keluarga, percakapan informal, hingga berbagai hajatan.
Ada kehangatan yang ikut tersaji bersama kacang sangrai itu.

Tradisi menghidangkan makanan kepada tamu menjadi cerminan keterbukaan dan penghormatan terhadap sesama. Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Sitou Timou Tumou Tou—manusia hidup untuk memanusiakan manusia lainnya—yang diwariskan oleh tokoh Minahasa, Dr. Sam Ratulangi.

Karena itu, ketika Wabup Vanda turun langsung menyangrai kacang di tengah Pawai Pembangunan, yang terlihat bukan sekadar aksi simbolis.

Ada pesan tentang bagaimana pembangunan seharusnya berjalan: bergerak maju tanpa kehilangan akar.

Modernisasi boleh datang. Ekonomi digital boleh berkembang. Produk lokal boleh menembus pasar yang lebih luas. Namun, identitas budaya dan pengetahuan tradisional masyarakat tetap harus mendapat tempat.

Pawai Pembangunan Kawangkoan Raya akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk merayakan kemerdekaan. Di sana, belanga panas, pasir gunung, kayu bakar dan kacang tanah memperlihatkan wajah lain dari pembangunan Minahasa—pembangunan yang tumbuh dari masyarakat, menghidupkan ekonomi lokal dan tetap berpijak pada kearifan leluhur.

Dan dari tangan yang terus mengaduk kacang di atas belanga, pesan itu terasa sederhana namun kuat: masa depan daerah akan semakin kokoh ketika kemajuan berjalan beriringan dengan tradisi.(ler)

Editor : Lerby Fabio Tamuntuan
Kacang Kawangkoan Jaga Budaya Kabupaten Minahasa pawai pembangunan Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang