MANADOPOST.ID—Gunung Klabat adalah nama gunung tertinggi di Sulawesi Utara (Sulut) Oleh masyarakat Tonsea (suku asli Minahasa Utara), Gunung Klabat kerap disebut dengan nama Gunung Tamporok.
Nama Gunung Klabat berasal dari berasal dari bahasa Minahasa yaitu Kalawat, sebutan bagi satwa lokal atau yang biasa disebut dengan babi rusa, dalam dialek Tonsea Kalawat.
Lokasi Gunung Klabat masuk dalam wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan berjarak sekitar sekitar 30 kilometer dari Kota Manado.
Gunung berada di koordinat 1027’12” Lintang Utara dan 125001’41” Bujur Timur. Gunung Klabat bisa ditempuh menggunakan mobil dari Kota Manado sekitar 30 menit melalui jalan lebar dan halus yang menjadi jalur utama Manado-Bitung.
Menurut cerita penamaan gunung ini diambil dari nama pelaut asal Portugis “Calabeys” sebagai sebutan gunung di Pulau Sulawesi.
Dan itu berasal dari kata nama Calabes yang menjadi nama Lain dari Pulau Sulawesi. Sekarang nama Klabat bukan hanya untuk nama gunung saja. Namun nama Klabat sudah dipakai untuk nama Desa (Klabat), serta nama stadion sepak bola (Klabat) yang berada di Kota Manado.
Pun terdapat Universitas (Klabat) yang berada di Kota Airmadidi. Konon kabarnya Gunung Klabat sebelumnya bukanlah gunung yang tertinggi tetapi Gunung Lokon yang paling tinggi namun penghuni Gunung Klabat ingin agar gunung yang mereka tempati lebih tinggi dari Gunung Lokon.
Maka pergilah penghuni Gunung Klabat menemui dua tokoh setempat yang bernama Pinontoan dan Ambilingan. Mereka memohon agar sebagian tanah Gunung Lokon ditambahkan ke Gunung Klabat.
Karena kemurahan hati dan tidak kikir Pinontoan dan Ambilingan mempersilakan penghuni Gunung Klabat uutuk memotong sebagian Gunung Lokon. Mereka tidak menyesal apabila sebagian tanah Gunung Lokon diambil oleh penghuni Gunung Klabat.
Dengan semangatnya penghuni Gunung Klabat memotong sebagian puncak Gunung Lokon, Tanah yang diambil kemudian di angkut ke Gunung Klabat. Ya, akhirnya Gunung Lokon menjadi lebih rendah dan Gunung Klabat menjadi lebih tinggi bahkan menjadi gunung tertinggi di Sulawesi Utara.
Masih menurut legenda, tanah yang dibawa dari Gunung Lokon juga sebagian terlempar sampai ke laut yang kemudian menjadi pulau. Pulau ini sekarang dinamakan Pulau Manado Tua.
Gunung Klabat sendiri memiliki ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan kawah berbentuk danau kecil yang menampung air yang berkilau bersih.
Saat ini status Gunung Klabat adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi, sehingga aman untuk kegiatan pendakian.
Gunung Klabat kini menjadi destinasi pendakian oleh masyarakat sekitar, dan dari luar wilayah Kabupaten Minahasa Utara.
Titik awal pendakian Gunung Klabat berada di daerah Airmadidi, ibukota Kabupaten Minahasa Utara.
Di Airmadidi, pendaki akan diminta untuk mendaftar di buku tamu yang ada di kantor polisi di sisi jalan utama.
Pos polisi yang menjadi Entry Point pendaki di Gunung Klabat ini berada pada ketinggian 260 meter.
Di sini, pendaki juga bisa memilih untuk menggunakan pemandu pendakian yang akan membantu menunjukkan jalan serta membawakan barang dan perbekalan.
Ada juga tempat persewaan tenda, kantung tidur, dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh pendaki.
Pendaki biasanya akan memulai perjalanan pada sore atau malam hari, agar bisa mencapai puncak menjelang waktu matahari terbit (sunrise).
Meski jalur pendakian dapat dikenali dengan jelas, namun trek yang dilalui cukup ekstrim dan panjang.
Setidaknya butuh waktu sekitar 7-8 jam dari pos awal di Airmadidi hingga bisa sampai ke puncak. Pendaki akan melewati 6 buah pos pendakian, sebelum akhirnya bisa menikmati pemandangan dari puncaknya.
Selain bisa menikmati pemandangan kawah, dari puncaknya pendaki bisa melihat keindahan Kota Manado, serta megahnya Gunung Dua Saudara, Gunung Mahawu, dan Gunung Lokon. (jen)
Editor : Jendry Dahar